Halaman:Aspek-aspek arkeologi Indonesia No. 7.pdf/17

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

Sebuah team yang terdiri dari beberapa orang arkeolog Indonesia dan Amerika Serikat pernah menggali di daerah Rembang. Mereka meneliti 50 situs dan membuat 40 kelompok kumpulan keramik lokal dan asing, ialah dari masa 1) T’ang-Sung akhir, 2) Sung-Ming akhir, 3 ) Ming dan sedikit Ch’ing dan 4 ) Ch’ing dan Eropa.

Para penulis laporan itu bertanya: ”mengapa bukti bahwa pernah ada hubungan dengan India dan Cina muncul begitu lambat? Di Muang Thai dan Vietnam Selatan hubungan itu sudah begitu intensif sejak tahun 200 ketika kota-kota besar seperti Oc- Eo telah mulai nampak. Jadi mungkinkah Indonesia 400- 500 tahun terbelakang dibandingkan dengan benua Asia? (Laporan Rembang h.112). Kemudian team itu, habis meneliti situs Binangun, berpendapat bahwa : ”daerah itu sudah ikut serta dalam perdagangan asing sejak tahun 700 M. Letaknya pada suatu daerah yang tak baik untuk melakukan pertanian. Karena itu Binangun kami anggap sebagai suatu bandar dagang purba. Inilah bandar pertama yang ditemukan di Jawa yang umurnya jatuh dalam milenium pertama pada awalnya atau di tengahnya” (h. 112d).

Binangun ini yang terletak di atas puncak sebuah bukit yang mudah dipertahankan karena di sebelah timur ada daratannya, sedangkan di sebelah utaranya ada teluk, di sebelah utara Gunung Lasem (Laporan Rembang 1975:112d) sudah pernah dilaporkan oleh Orsoy de Hines (1941—1947) sebagai daerah rawan dalam hal pecahan keramik.

Team Rembang telah mempertimbangkan banyaknya gerabah lokal, untuk menunjukkan bahwa daerah ini memang pernah menjadi permukiman.

Buat latar belakang sejarahnya: daerah yang pernah disurvai oleh Orsoy de Flines, termasuk Rembang, memang pernah menjadi bagian Jawa Tengah yang penting. Ada nama-nama tempat yang mengingatkan kami kepada berita-berita Cina dan lokal . Nama Waru sama seperti apa yang pernah dieja sebagai Po-lu-kia-se36), yang menurut berita T’ang tempat perpindahan keraton nenek moyang raja Ho-ling yang bernama Ki-Yen sekitar tahun 750. Nama itu pernah dibaca sebagai Waru-yasik, sedangkan Pelliot menganggapnya sebagai Waruh- Gresik atau Waruh di pantai pasir.

Loram Kulon37) di Kudus sama dengan Luaram pada prasasti Airlangga tahun 1041, yang memuat berita tentang penyerangan oleh raja Wurawari yang datang dari Luaram, Serangan ini telah memusnahkan keraton Dharmawangsa dan mungkin tindakan ini didukung oleh Sriwijaya dengan bantuan raja Jawa (Coedes 1968 : 144) Wurawari adalah sebuah tempat di Pekalongan (Schrieke 1957 a : 211 cf) .

13