soeratoe pagi ia ada terima satoe soerat jang ia kenalin ada toelisanja Anna. Soerat itoe maksoednja tiada laen dari pada minta kesiannja gravin Lydie aken idjinin ia ketemoe pada anaknja.
Kerna tiada maoe dikoeat seselan, maka gravin Lydie sablonnia bales itoe, lebi doeloe ia toelis soerat sama Karenine jang ia minta sebrapa bisa dateng di tempatnia kerna ada satoe perkara jang penting maoe diadjak dami.
Tempo Karenine pergi di istana dirinja dipandang dengen tiada soedanja oleh orang-orang jang ada di sitoe; malahan tempo itoe lantes rame orang mengomongin dirinja; ada jang bilang sekarang ia idoep lebi senang, ada jang kata roepanja toea'an.
Paling tjilaka bagi Karenine adalah sedari Anna tinggalin dirinja, ia sebagi ambtenaar tiada ada harepan aken naek pangkat lagi.
Betoel sampe sekarang ia masi pangkoe kadoedoekan jang tinggi, tapi boeat naek lebi tinggi, sekarang ia tiada ada poenja harepan.
Sa'abisnja receptie Karenine pergi ka salon ketjil, di mana gravin Lydie seleng toenggoein dirinja.
Tempo masing-masing soeda ketemoe, gravin Lydie seraken soeratnja Anna, jang Karenine batja dan sakoetika lamanja tiada berkata apa-apa. Achirnja, dengen kepala ditoendoekin, ia bilang:
„Sobatkoe jang baek, dalem itoe soerat akoe tiada ada liat soeatoe hal jang bisa dikata tiada baek..."
„Sebaliknja di bagian mana sadja akoe liat hal-hal jang tiada baek...”
Dari roepanja menoendjoekin jang Karenine tiada begitoe pertjaja dengen ketrangannja gravin Lydie.
„Betoel,” kata gravin Lydie dengen setara tetep. „Semoea perkara ada watesnja. Tiada patoet? Sama siapa kita berlakoe tiada patoet, kaloe akoe boleh tanja? Sama kau barangkali? Anna brani dateng di kota, di mana kau ada tinggal! Selaloe orang bisa dapetin hal-hal jang baek aken diperhatiken. Ini kali akoe dapet liat kau poenja kamoelia'an. Sedeng kau ada begitoe, adalah Anna menoendjoekin karendahannja.”
Ini poedjian roepanja memoeasken atinja Karenine.
„Siapa jang moesti menoelak? Akoe soeda ampoenin dirinja, maka itoe akoe tiada bisa tjega iapoenja kahendakan jang memang loemrahnja ada sama tiap-tiap orang jalah katjinta'an pada iapoenja anak!”
„Aken tetapi apa itoe betoel ada katjinta'annja satoe iboe? Apakah kau rasa betoel begitoe? Kau ada hak aken ampoenin dirinja Anna, tapi apa kita ada poenja hak djoega aken bikin roesak hatinja Serioja? Serioja anggep iboenja soeda lama meninggal. Saban-saban ia berdoa pada Allah soepaja dosanja Anna djadi entengan; bae'an jang Serioja teroes anggep begitoe. Tjoba kaloe ia taoe iboenja masi idoep, apa ia nanti pikir?...”
„Dengen sasoenggoenja sampe begitoe djaoe akoe tiada ada pikir,” begitoelah Karenine bilang. „Boleh djadi apa jang kau bilang ada betoel.”