bisa oendjoekin iapoenja pikiran dan katjinta'an, begitoe poen dengen iapoenja maksoed jang maoe membri ampoen pada iapoenja istri. Dengen tiada perkata apa-apa dan dengen mata jang tiada berkesip ia pandang Betsy dengen tiada soedanja.
„Adieu, sobatkoe jang baek," kata Betsy dan kamoedian bangoen dari tempat doedoeknja. Karenine ada orang jang anterin iapoenja tetamoe. Tempo sampe di satoe salon ketjil Betsy brenti dan bilang sembari pegang tangannja Karenine begini:
„Alexis Alexandrovitch, akoe kenal betoel kau poenja ati jang moelia. Betoel itoe tiada wadjib akoe tjampoer, tapi bahna tjinta dan hormat 'koe pada kau, maka akoe soeda sampeken djoega itoe perkata'an. Apa boleh akoe kasi kau nasehat? Trimalah kedatengannja graaf Vronsky dia itoe ada saorang jang terhormat dan ia maoe pergi ka Tartarije."
„Akoe bilang trima kasi, prinses, aken kau poenja nasehat jang berharga dan bagi kau poenja katjinta'an. tapi Anna sendiri moesti tetepken, siapa jang ia moesti trima."
Abis bilang begitoe Karenine membri slamat tinggal pada Betsy dan balik kombali sama iapoenja istri.
Anna soeda reba dengen balikin iapoenja blakang, tapi tempo denger ada soeara tindakan, ia bangoen lagi dan doedoek seperti doeloenja. Dengen paras kaget ia pandang soeaminja dengen tiada soedanja.
Karenine jang djoega pandang Anna, dapet kanjatja’an jang istrinje baroe abis menangis dan bilang:
„Lagi sekali akoe hatoerken trima kasi bagi kau poenja kapertjaja’an atas akoe poenja diri dan dengen tjaranja kau memberi poetoesan dalem itoe perkara. Akoe maoe pertjaja djoega jang graaf Vronsky betoel brangkat dan tiada perloe sama sekali akan dateng di sini. Akan tetapi . . .”
Anna roepanja tiada bisa tahan lagi iapoenja nafsoe dan soeda poetoesken pembitjara’annja Karenine:
„Akoe toeh soeda bilang pada kau, jang akoe tiada bisa trima iapoenja kedatengan, kenapa itoe sekarang akoe moesti oelangin lagi . . .”
„Memang djoega tiada perloe akan ia dateng kemari,” begitoelah Anna bilang lebi djaoe dengen soeara pelahan, „tiada perloe akan ia memberi slamat tinggal pada satoe prempoean jang ia ada tjinta, jang akan prempoean mana ampir sadja ia binasaken djiwanja, ampir sadja ia poetoesken iapoenja pengidoepan. Sedeng itoe prempoean tiada bisa idoep zonder dirinja . . . Ja, itoe memang amat tiada perloe . . .”
„Bae’an kita djangan bitjaraken lebi djaoe tentang ini,” kata Anna sasoedanja bisa bikin tetep iapoenja ati.
„Akoe soeda seraken pada kau akan poetoesken ini hal dan kau poenja poetoesan ada menjenangin sekali atikoe . . .”
Ia poenja sikep jang soeka melit dan oetjapken