Lompat ke isi

Halaman:Anna Karenine atawa Hatinja satoe prampoean No. 3.pdf/12

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
— 178 —
— 179 —

„Anna, kau hinaken akoe poenja diri... Apa kau tiada pertjaja padakoe? Apa akoe tiada bilang pada kau jang pikiran akoe belon pernah loepaken kau maski boeat satoe minuut poen.“

„Betoel kau doeloean bilang begitoe,“ demikianlah Anna soeda mendjawab dan berboeat seberapa bisa boeat tindi iapoenja rasa tjemboeroean. „Ah, kaloe kau taoe, begimana doeka adanja akoe poenja ati... Akoe sendiri sampe pertjaja pada kau, akoe sendiri sampe taoe abis tentang kau... aken tetapi apatah sabetoelnja jang kau hendak bilang?“

Rasa tjemboeroe jang di waktoe belakangan sering diondjoek oleh Anna bikin Vronsky djadi sanget djeangkel kendatipoen ia taoe jang Anna berboeat begitoe saking tjintanja pada iapoenja diri. Maskipoen begitoe toeh ia anggep toekan soeatoe kaberoentoengan bagi dirinja Kasenangannja jang sekarang tiada ia bisa bandingin tempo ia pertama kali terdjoempa sama Anna, di mana sebagi seorang edan ia boentoetin Anna dari Moskou sampe di Petrograd. Tatkala itoe atinja bersoeka lantaran ia liat jang pengharepannja aken dapetini Anna ada sedikit sekali, aken tetapi tempo ia broentoeng sampeken itoe pengharepan, katjinta'annja sama Anna moelain... kendor. Anna jang doeloe begitoe „poet sit,“ Anna jang doeloe dipandang sebagi satoe prempoean elok, sekarang diliat sebagi satoe prempoean kabanjakan sadja. Beda sekali tempo belon didapetin dan belon dikenal, jang sebagi kembang adalah kembang jang masi me...

Nempel di poehoen dan boekan sebagi kembang jang soeda dipetik jang loekas sadja bisa lajoe hanja djoega ada harepan loeas djaoi „rontok”...

Kendatipoen ia taoe atinja sekarang moelain tawar pada dirinja Anna toh ia mengarti jang perhoeboengannja djadi semingkin teroe.

Vronsky ambil tangannja Anna jang diletakin di medja dan tjioemin itoe dengen beroelang oelang.

„Akoe tiada bisa berboeat laen... Kau tiada taoe begimana adanja akoe poenja pikiran tempo menoenggoein kau poenja kedatengan. Akoe tiada pertjaja jang akoe ada tjemboeroean. Akoe pertjaja kau sebagi djoega kau pertjaja pada akoe, aken tetapi begitoe lekas kau berlaloe, akoe jang sendirian, djadi bingoeng dan tiada taoe apa jang moesti diberoeat...”

Abis bilang begitoe ia balikin moekanja, pegang iapoenja pendjaitan dan dengen roepa bingoen lakoeken iapoenja pekerdja’an mendjait.”

„Eh, di mana kau soeda ketemoe akoe poenja soeami?” — Soearanja jang tadinja ada begitoe merdoe sekarang kedengeran sanget tiada enak.

„Di deket pintoe. Dia ada satoe orang jang soesa oentoek dimengarti,” begitoelah Vronsky bilang. „Sabetoelnja, sesoedahnja kau mengakoe, perhoeboengannja dengen kau sigra dipoetoeskan atawa madjoeken tantangan pada akoe; begimana ia bisa berlakoe begitoe? Ia berlaga mati mati oeler, ini soeda terang.”

„Berlaga mati mati oeler?” kata Anna dengen