dan di Betawi; ia taoe sekarang soeda pinda kesitoe, disitoe kampoeng jang soenji, ia mengarti ajahnja soeda mati. Tetapi Heng Dji serta liat semoea laen lantas sadja adjak iboenja poelang, tida laen ia bilang maoe poelang, kenapa baba tida ada, apa dia ketinggalan kreta api.
Tingkanja ini anak membikin Soekmi djadi lebi sedi lagi, tetapi seperti soeda dikata, ia sekarang moesti pegang doea rol, jaitoe rolnja iboe dan rol bapa, maka ia moesti kerasin hati; ia boedjoekin itoe anak dengen roepa-roepa perkataan, soepaja ia djangan tanja-tanja lagi.
Malem diwaktoe tidoer, Heng Dji sering mendoesin, dan asal mendoesin seperti biasanja ia memanggil ajahnja, minta di gosok-gosok badannja, dikeboetin oesir njamoek.
Besoknja, Soekmi moelain atoer pasang satoe medja didalem roema, jang kebetoelan ada bekas doeloe, ia pake itoe boeat taro Hio Lou, ia soeroe bli hio dan soeroe Heng It sembajang, seperti oendang soemanget orang toeanja, kasi taoe sekarang soeda pinda di Tjomal.
Tentoe sadja Darmi dan semoea tetangganja djadi heran meliat klakoeannja Soekmi, tetapi orang tida brani menanja satoe apa.
Liwat kira satoe minggoe dimoeloet itoe djalan ketjil soeda terdiri satoe goeboek sebagi gardoe,