- 147 -
jang montok. „Ini anak begitoe bagoes," berseroe dia. Tjan djoega pandang itoe gambar, ia djadi tersenjoem, sebab tida oeroeng hatinja ketarik betoel sama itoe gambar anak jang begitoe moengil.
Soekmi keliatannja seperti orang ngidam kena liat boea-boea, tida bisa lepas matanja dari itoe gambar; betoel ia balik-balik meliat jang laen, tetapi saban ia balik lagi pada itoe gambar djoega dan saban dipandangnja begitoe lama dan matanja sendiri seperti menjala berkilat kilat dan tersenjoem.
„Baba liat moekanja itoe iboe," kata Soekmi.
„Ja, mirip seperti angkau poenja moeka, ja ?" djawab Tjan sembari memandang lagi itoe gambar. „Kaloe angkau djoega dapet anak, tentoe begitoelah angkau bikin. Ai, brapa senang, brapa girang..."
Tjan lantas diam dan memandang kadepan seperti berpikir, sebab sebetoelnja djoega ia pikir dan timbang-timbang aken ia sendiri. Pendeknja ia seperti mengiri liat itoe gambar, sedeng ia sendiri belon ada poenja penghiboeran begitoe roepa.
Soekmi liat begitoe, diam-diam ia masoek kedalem kamernja dan doedoek dipembaringan