ia tida aken bisa bikin begitoe.
Diliat begitoe, ia setoedjoe pada orangnja, tetapi tida setoedjoe lantaran kebangsaannja.
Sang ajah jang dari tadi tinggal diam sadja, sebab biar begimana djoega besar dan teboeka hatinja, tida loepoet ia djoega ada poenja perasaan menjesel. Orang jang miskin, maoe djoega dapet nona mantoe bangsa sendiri dan bawa mantoe itoe keroema disertaken oepatjara; tetapi ia ada saorang mampoe tida bisa bikin begitoe.
Ini sadja tida kenapa, tetapi begimana ia nanti moesti djawab kaloe sobat-sobatnja menanja.
Tapi, sebab ia ada saorang lelaki, laen dari itoe ada perna djoega adepin bangkoe sekola, ada banjak batja boekoe-boekoe serta banjak bikin pergaoelan dengen segala bangsa, ia poenja pemandangan atas perbedaan bangsa itoe tida begitoe keras sebagi orang orang dari kaoem kolot. Ia tida ada kebratan aken anaknja piara prampoean Djawa, asal sadja ia bisa idoep manis dan itoe prampoean ada setia serta tjinta soeaminja, kaloe begitoe, kenapa ia moesti merasa berat?
Sebetoelnja ia moesti bersoekoer, lantaran ada orang jang bantoe tjinta sajang dan rawatin anaknja.
Maka ia gojang kepala, seperti maoe boeang segala pikiran jang tida enak dan dengen tarik