Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 3.pdf/48

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

pat tahu di bagian mana sajakah penggalian telah dilakukan. Inilah kami anggap pekerjaan sia-sia, yang sungguh kami sayangkan, karena tidak disertai dokumentasi lengkap. Penyelidikan yang pernah dilakukan hanya ada artinya bagi sipenyelidik itu sendiri! Jika sekarang akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut, maka berarti bahwa bukit seluruhnya harus digali! Dan peninjauan kami ke sana memang menimbulkan hasrat untuk menyelidikinya lebih lanjut lagi dan lebih seksama.

Keinginan ini terutama timbul oleh kemajuan pengetahuan kita tentang arti Bukit Siguntang dan Palembang di dalam sejarah. Di atas bukit itu, selain kuburan-kuburan baru, terdapat pula dua makam yang keramat. Yang pertama adalah Makam Ratu Sekandar Alam atau Iskandar Zulkarnain, yang aneh sekali tidak membujur utara-selatan sebagaimana lazimnya makam islam melainkan arahnya barat-timur. Sebaliknya kuburan yang kedua, dari Tuan Puteri atau Puteri Cina atau Puteri Cempa, arahnya benar. Pada nisannya ada pertulisan, rupa-rupanya dari cat hitam, tetapi sayang sekali tak dapat kami baca oleh karena nisannya terlalu dekat kepada dinding cungkupnya. Lagi pula tempatnya agak gelap dan tulisannya sudah kabur.

Yang lebih menarik perhatian kami ialah terdapatnya banyak batu-batu bata kuno yang bertebaran di mana-mana, sedangkan di beberapa tempat ada yang masih berhubungan seperti bekas-bekas tembok. Di berbagai tempat ada bukit-bukit kecil yang mungkin sekali menandakan setumpukan sisa-sisa bangunan (ataukah timbunan tanah bekas penggalian?? - dan inilah yang kami takutkan!).

Penyelidikan nantinya baiklah sekali kiranya didahului oleh pemetaan (kaarttering) yang teliti, dengan garis tinggi antara ½ m. Menurut kira-kira Sdr. Basoeki yang telah berpengalaman melakukan pekerjaan demikian, pemetaan Bukit Siguntang akan makan waktu tidak kurang lebih dari sebulan.

4. Batu Ampar

Batu Ampar letaknya di tepi Air Musi sekarang, bahkan batu-batunya yang disebut dengan nama itu hanya terlihat waktu air sungai surut, namun tanahnya adalah tua, dan berasal dari zaman pleistosen dengan banyak tuf, jadi merupakan sebuah pulau sebelum terjadi dataran rendah alluvium.

Menurut cerita maka batu-batu itu yang bentuknya kira-kira empatsegi, dahulunya adalah karung-karung beras yang dilemparkan oleh seorang nakhoda. Dari dongeng ini dapatlah kiranya dilihat suatu ingatan akan adanya pelabuhan di sini. Memang batu-batu dan sisa-sisa tembok di dekatnya menunjukkan ke arah ini. Nampaknya sisa-sisa "pelabuhan" itu sangat tua, dan berasal dari pelabuhan sungai, jadi sewaktu dataran rendah alluvium telah terbentuk dari Air Musi sudah mengalir di situ. Oleh karena liku-liku sungai berpindah dari hulu ke hilir, maka jika pelabuhan itu berasal dari zaman sebelum Air Musi berlalu di situ, sisa-sisa tadi harus sudah lenyap.

Di belakang pelabuhan ini tanahnya agak tinggi (pulaunya yang tersebut tadi). Di sini terdapat beberapa makam yang pun tidak terlalu tua: Tetapi didekatnya banyak batu-batu yang lebih besar ukurannya dari batu-batu kuburan, dan lebih tua umurnya. Mungkin sekali hal ini menunjukkan adanya bangunan-bangunan yang lebih tua (sewaktu tanah ini masih menjadi pulau). Memang bangunan-bangunan di atas timbulan pleistosen demikian itu dapat sekali masih saja bertahan, berlawanan dengan sisa-sisa pelabuhan tadi.

Satu dan lain hal harus ditentukan oleh penggalian yang sistimatis di tempat itu.

5. Candi Angsoka

Tempat ini oleh yang namanya saja sudah menarik perhatian kami ("candi dan a(ng) soka). Lebih-lebih oleh karena Schnitger di sana telah mendapatkan beberapa batu makara. (The Archaelogy of Hindoo Sumatra, hal. 2).

Candi Angsoka adalah suatu bukit yang tanahnya tua sekali (talang). Di atas ada sebuah keramat yang dikatakan orang kuburan "Amangkurat", hal mana tidak cocok dengan peta Westenenk (Jawa I, 1921, hal. 7). Pada tiang cungkup keramat ini ada dipasangkan sebuah simbar-sudut dari batu yang menilik ukirannya mungkin menunjuk ke abad XI atau XII. Antara keramat ini dan jalan raya (Jalan Jenderal Soedirman) ada lagi kuburan, entah dari siapa, yang nisannya dari kayu berukiran indah. Antara kedua makam ini ada dua potong batu besar yang dengan penyelidikan teliti tidak mengandung sesuatu petunjuk.

Meskipun dikatakan orang bahwa tak ada lagi peninggalan kuno lainnya, ternyata bahwa di da-

lam tegal alang-alang yang meliputi lapangan se-

43