Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 3.pdf/44

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

jelas sekali dari udara di sebelah timur Kayu Agung (dekat Lebak Deling di Desa Pangkalanlampam) yang terdiri atas timbulan "granit" beserta dengan tanah pleistosen.

Kesimpulan ini dapat cocok dengan hasil penyelidikan di darat. Demikianlah maka Bukit Siguntang, Kedukan Bukit, kelompok Geding Suro, Candi Angsoka, dan Telaga Batu terletak di atas tanah-tanah tua. Batu Amparpun tempatnya, meskipun di tepi Musi yang sekarang, ada di atas tanah tua, yaitu di atas pulau dengan tanah pleistosen yang sudah ada sebelum berbentuk dataran alluvium. Dengan ini maka ternyata bahwa Palembang sekarang letaknya sebagian di talang dan sebagian di pulau. Bagaimana dahulunya? Di ujung jazirah atau di pulau di depan jazirah seperti Singapura sekarang? Kalau jazirah itu berakhir di sebelah barat menara air, sedangkan di timurnya ada tempat-tempat kuno (tempat peninggalan purbakala), maka ada tiga kemungkinan untuk menggambarkan keadaan Palembang di abad ke-7:

a). ujung jazirah pantainya berliku-liku dengan ujung-ujungnya yang jauh menjorok ke laut.

b). di muka jazirah ada beberapa pulau yang sendiri-sendiri.

c). pulau-pulau ini telah bersambung dengan ujung jazirah.

Tidak mustahil, bahwa sebuah peta kota Palembang dan sekitarnya di mana dinyatakan dengan teliti sekali garis-garis tingginya (dengan antara ½ m misalnya) dapat memberi petunjuk ke arah kepastian (peta demikian telah kami minta Sdr. Saleh usahakan ke Kotapraja atau P.U.). Kesimpulan di atas dapatlah kiranya memberi keterangan mengapa di Palembang Ulu tidak ada peninggalan-peninggalan purbakala. Hanya "Gunung Mahmiru" (Mahameru) pantas mendapat perhatian.

b. Jambi

Dengan hasil-hasil di atas ini maka dapatlah kini dengan jalan analogi dan berdasarkan peta geologi ditarik kesimpulan tentang garis pantai daerah Jambi. Di sini laut dahulu sangat jauh menjorok ke dalam daratan sekarang, sedangkan "Teluk Jambi" itu dari luar dilindungi oleh berbagai pulau (timbulan-timbulan tanah neogen-pleistosen seperti di sebelah timur laut Kayu Agung, Palembang). Akan tetapi teluk ini tidak sedalam dugaan Obdeyn yang menyatakan bahwapun Muara Tebo (yang diidentifikasikan olehnya dengan Cho-po dsb) terletak di pinggir laut. Dugaan ini bertentangan benar dengan bahan-bahan geologi yang menyatakan bahwa daerah Tebo adalah tanah neogen-pleistosen, sehingga dari sudut geomorfologi mustahillah di sini ada laut di dalam zaman sejarah.

Suatu keberatan lagi yang dapat dikemukakan terhadap rekonstruksi Obdeyn ialah, bahwa di dalam zaman sejarah (bahkan sampai ± tahun 1.400!) Bangka-Belitung masih menjadi satu jazirah dengan Riau-Lingga-Malaka. Menurut Verstappen tak dapat tidak dewasa itu laut antara Bangka dan Riau tentu sudah ada. Tetapi pulau-pulau Riau-Lingga memang masih bergandeng dengan Semenanjung Malaka.

Menurutkan Obdeyn atau tidak, sangat penting bagi ilmu purbakala dan sejarah kuno ialah bahwa dalam zaman Sriwijaya, Singapura belum ada artinya. Maka peranan Singapura sekarang sebagai pelabuhan antara yang harus "dengan sendirinya" disinggahi dalam jalan pelayaran antara India dan Tiongkok dan antara kedua negara itu dan Indonesia, dahulunya dipegang oleh Jambi (Melayu?) dan atau Palembang (Sriwijaya?). Dalam segi ini maka dapatlah kita fahami, bahwa untuk hegemoni atas lautan yang demikian pentingnya itu kedua pelabuhan tadi harus ada dalam satu tangan!

c. Lokasi Beberapa Tempat Kepurbakalaan.

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka dengan pengetahuan geomorfologi daerah Palembang dapat ditentukan tempat-tempat di mana dapat diharapkan adanya peninggalan-peninggalan purbakala. Demikianlah tempat-tempat kuno adanya di atas talang dekat perbatasan dengan tanah muda, sedangkan tempat-tempat yang lebih muda harus dicari di atas renah-renah. Tegasnya di tempat-tempat yang agak tinggi di dekat pantai. Sewaktu sebagian terbesar dari tanah datar sekarang masih berupa laut (sesuai benar dengan kerajaan yang didasarkan atas kekuatan maritim dan perdagangan). Demikianlah nyatanya di Bukit Siguntang, Kedukan Bukit, Telaga Batu, Batu Ampar, dan sebagainya. Pun Solok Sipin dekat Jambi ternyata demikian letaknya.

Oleh karena jalan itu berubah-ubah, sedangkan sampai kini jalan air adalah yang utama bagi daerah Palembang dan Jambi, maka jika ada tem-

39