Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/57

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

del yang tetap" dan tiak dapat dikenal kembali.

Bahkan kaki nekara itu juga terhias dengan lukisan-lukisan orang dan hewan yang indah. Kita melihat gajah yang dari muka juga dari belakang dinaiki orang, juga orang berkuda yang dengan tangan kiri memegang kendali dan dengan tangan kanan memegang pecut. Sebilah pedang bergantung mendatar pada ikat pinggangnya. Di hadapannya ada seorang prajurit lain, berpakaian baju panjang. Karena pakaian, kegagahan, dan wajah muka prajurit-prajurit itu lah maka Heine Geldern mengira bahwa mereka adalah orang Kushana atau orang Indo-saka. Gambar-gambar itu sangat menyerupai pada mata uang raja-raja Kushana dari tahun 100-300 M. dari zaman terjadinya perhubungan dagang dan diplomatik yang pertama natara orang Kushana dan negara-negara tetangga di timur. Maka tidak mungkinlah bahwa nekara itu dibuat di Sangeang atau di tempat lain di Indonesia, melainkan di datangkan dari Funan pada pertengahan abad ke tiga Masehi.

Di sini bukan tempatnya untuk menguraikan semua nekara-nekara dengan panjang lebar. Kita akan membatasi diri sampai beberapa pasal saja. Nekara nekara dari bagian yang paling timur di temukan pada tahun 1890 oleh C.W.W.C Baron van Hoevell di Pulau Kur dari Kepulauan Kai. Nekara-nekara itu ada di bawah pohon pegunungan dan pada masa itu telah rusak dan bagian bawahnya terpendam di dalam tanah. Ada dua buah yang terletak berdampingan, yang satu besar disebut penduduk '"laki-laki" dan yang lain, yang lebih kecil disebut "perempuan". Dalam tahun 1933 gezaghebber J.W. Admiraal mendengar bahwa nekara yyang kecil hampir rusak seluruhnya ditimpa oleh pohon yang tumbang. Dalam tahun kemudian ia sempat untuk memeriksa nekara itu sendiri. Pada wakti itu ternyatalah bahwa juga nekara yang besar sangat rusak. Orang menceritakan juga bahwa seorang "tuan minyak tanah" atau "tuan maatschappij" telah membawa beberapa bagian dari nekara yang besar itu. Barangkali bagian-bagian itu ialah yang kini ada di Zuricher Museum, yang diberikan oleh H. Steinmann. Penduduk tak keberatan bahwa tuan Admiral membawa bagian-bagian yang masih tinggal, dan kini ada di Museum Jakarta. Di pulau itu ada tiga buah dongeng tentang nekara itu:

  1. Nekara itu ditemukan beratus-ratus tahun yang lampau di pantai tenggara Pulau Kur, di Hirit. Nekara-nekara itu jatuh dari langit ketika pulau itu timbul dari laut. Kemudian nekara itu diangkat ke pegunungan, dan dahulu dipuja sebagai benda-benda yang sangat keramat.
  2. Pada suatu pagi orang menemukan 4 buah nekara yang dibawa oleh laut ke pantai di dekat Kampung Hirit sekarang. Penduduk Pulau Kai hendak menyembunyikan benda-benda itu. Orang mengikatkan tongkat-tongkat pada nekara-nekara itu untuk mengangkut mereka, tetapi nekara-nekara tersebut sedikit pun tidak terangkat dari tanah. Nekara-nekara itu memprotes dan mengaung: gaba-gaba. Tongkat-tongkat dilepas dan diganti dengan beberapa potong gaba yang kuat. Di atas gaba itu dua buah nekara dapat diangkut dengan mudah ke pegunungan, tetapi ketika orang kembali ke pantai untuk mengangkut kedua nekara yang lain, nekara-nekara itu telah membantu.
  3. Ketika orang Banda diusir dari pulau mereka oleh empat orang Belanda, mereka membawa juga empat buah nekara. Mereka mendarat di Pulau Kur, yang penduduknya pada masa itu masih memakai cawat. Mula-mula perhubungan mereka baik, tetapi tidak lama kemudia timbullah perselisihan-perselisihan yang kecil yang kemudian begitu memuncak sehingga orang baru itu meninggalkan pulau itu lagi, sambil meninggalkan nekara-nekaranya.

Nekara yang terbesar masih tersimpan dengan baik, Seluruh bidang pemukul masih utuh. Banyak hiasan sangat usang dan tak dapat dikenal kembali, tetapi kami berhasil juga mengenal sebagian besar dari perhiasan-perhiasan itu kembali. Menurut taksiran, nekara itu tingginya 870 mm dan garis tengah bidang pemukul berukuran 1135 mm. Di tengah bidang pemukul terdapat sebuah bintang bersinar 12 yang ditebalkan. Sekelilingnya terdapat lajur-lajur sepusat yang sempit dengan pola siku-keluang, meander-meander serong, dan lingkaran-lingkaran kecil sepusat. Di lajur kedua terlukis burung terbang dengan berparuh bengkok. Lajur ketiga berhiasan lukisan-lukisan orang yang menyamar sebagai burung dan dischematiseer, yang tak

52