Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/48

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


an. Sebab bagaimana pun akan puas rasa hati apabila dapat membangun kembali sebuah bangunan, bagi seorang ahli purbakala hal itu jauh dari cukup. Ia hendak mengetahui juga bagaimana dipergunakannya dan apa fungsinya di dalam masyarakat. Untuk itu diselidikilah tempat di sekitarnya, lapangan tempat candi itu didirikan, yang tentu telah disucikan dengan sesuatu cara. Penyelidikan lapangan semacam itu harus dikerjakan dengan teliti sekali, dan sebuah pekerjaan kepurbakalaan tidak lengkap apabila tidak diberikan perhatian sepenuhnya pada bagian penyelidikan itu. Dapat dikatakan bahwa segi inilah yang terutama, jauh lebih penting bagi ahli purbakala daripada pembangunan kembali sebuah bangunan yang telah runtuh. Bagaimana penyelidikan lapangan itu dikerjakan dalam masalah ini lebih-lebih bagi seorang ahli prasejarah, merupakan inti dari pekerjaannya di lapangan.

Maka ketika dalam penggalian lapangan itu tercapai permukaan tanah yang asli dan orang mendekati apa yang dinamakan tanah tak teraduk, ialah tanah yang tidak diusik-usik lagi sejak ia tertimbun, pekerjaan itu dilanjutkan dengan lebih cermat dan berhati-hati. Apa yang ditemukan pada waktu menyingkirkan tanah dibiarkan terletak di tempatnya, supaya kemudian lebih mudah diperoleh pemandangan umum terhadap lapangan percandian itu. Orang tidak boleh lupa, bahwa dapat diduga apa yang ditemukan itu sudah ada di dalam tanah atau dengan sengaja telah dimasukkan pada waktu candi itu didirikan. Dengan jalan demikian maka batu-batu kali yang kelihatannya seolah-olah terserak tak beraturan ternyata tersusun dalam dua bujur sangkar yang sepusat dan merupakan sisa-sisa dari dua tembok keliling yang berdekatan. Lagipula di tengah sisi-sisi sebelah barat terletak batu-batu terpahat yang merupakan beberapa buah undakan. Dengan demikian maka dapatlah dipastikan bahwa di situlah dahulu pintu masuknya tepat di hadapan patung Ganeça. Di dalam sudut-sudut dasar tembok itu tersembullah sedikit di atas permukaan tanah patok-patok batu yang ujungnya bulat dan bagian bahwahnya segi-empat. Patok-patok itu disebut lingga-semu, karena tidak mempunyai bagian tengah yang bersegi delapan sebagaimana lingga yang sebenarnya. Dalam hal ini patok-patok itu memegang peranan yang di lain tempat dipegang oleh lingga betul-betul. Sebab ternyata bahwa tempat-tempat angker yang terpenting di dalam lapangan percandian itu ditetapkan dengan tindakan-tindakan yang khusus. Tempat-tempat itu ialah terutama pusat dan keempat sudutnya; sedangkan tengah-tengah sisi sering juga disertakan. Cara yang dipergunakan untuk pembatasan itu ada beberapa macam, menurut kepentingan "templum"-nya (daerah yang dipergunakan untuk pekerjaan-pekerjaan suci dan dipisahkan dari dunia profan). Pada Candi Gebang itu ternyata yang dipakai adalah lingga semu tadi. Tetapi titik pusatnya tidak dapat dicapai, karena di sanalah berdiri candinya sendiri. Hal itu kelihatannya lebih logis daripada yang ternyata di dalam praktek. Sebab pada banyak percandian tampaklah bahwa seluruh kelompok di dalam tembok keliling terdesak sedikit ke utara, dan dengan demikian maka dalam hal itu titik pusat lapangan di dalam tembok-tembok itu bebaslah. Maka pada tempat-tempat itu diberikan juga tanda seperti pada tempat-tempat itu diberikan juga tanda seperti pada tempat-tempat lain yang kita sebut di atas. Pada Candi Gebang maka puncaknya yang berbentuk lingga itu lah yang dapat kita pandang sebagai lingga pusat. Dengan demikian maka daerah suci itu di batasi juga dengan cara seperti lazimnya. Tetapi dengan cara demikian candi itu menjadi patok juga, dan sekarang timbul pertanyaan apakah sebenarnya fungsi candi tersebut yang terutama. Adakah ia merupakan penandaan "magis" pusat lapangan yang suci itu ataukah merupakan kuil bagi patung dewa yang ada di dalamnya? Pertanyaan itu barangkali kelihatannya dicari-cari dengan mudah dapat dijawab. Bukankah perhatian sepenuhnya ditaruh pada perumahan untuk lambang dewa itu? Tetapi kalau kita pikirkan bahwa candi yang perkasa sekalipun seperti Candi Çiwa di Prambanan yang tingginya 47 m itu, harus bergeser ke utara untuk memberikan tempat kepada mercu kecil, yang tidak menarik perhatian dan sedikit banyak agak disamarkan, yang didirikan di atas pusat lapangan percandian, maka tidak di atas pusat lapangan percandian, maka tidak boleh tidak kita akan mendapat kesan bahwa tempat itu sangatlah penting, tetapi penandaannya tidak. Demikianlah maka masalah-masalah yang banyak yang masih harus dipecahkan oleh para ahli purbakala bertambah lagi dengan satu soal.

Di atas tekah diceriterakan tentang banyak masalah yang aneh dan menarik perhatian, yang

43