Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/42

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Adanya agama Ciwa terlihat dari sebuah arca Ganeca yang ditemukan di Porlak Dolok, tetapi rupanya agama Ciwa itu tidak banyak penganutnya,

Biaro-biaro Padang Lawas itu mempunyai corak sendiri, sehingga orang cenderung untuk menyebut seni itu seni "Hindu-Batak”, yaitu analog dengan seni Hindu-Jawa. Corak yang tersendiri itu ternyata dari seni bangunnya, seni pahatnya, dan bentuk-bentuk makaranya.

Halaman biaro-biaro selalu mengikuti suatu bagan yang sama: yaitu bangunan-bangunan pada setiap halaman terdiri dari satu biaro induk, dengan sebuah batur pendapa berbentuk persegi di depannya, dan kemudian beberapa bangunan besar dan kecil lagi yang letaknya rupanya tidak usah mengikuti pembagian yang tetap. Bangunan-bangunan yang didirikan di samping biaro induk itu adalah stupa-stupa atau batur-batur atau stupa stupa kecil, yang terakhir mengingatkan pada candi-candi kecil yang dibangun di zaman Majapahit.

Juga raksasa-raksasa dan makara-makara mempunyai corak sendiri. Lagi pula tampak suatu asymetrie dalam perwujudan arca-arca itu. Seni pahat boleh disebut sederhana karena relief-relief hanya sedikit saja yang kita dapatkan. Pun hiasan hiasan bunga atau daun-daunan tidak terlalu meramaikan pemandangan pada dinding luar biaro.

Arca-arca besar yang dahulu terdapat pada bilik biaro itu jarang ditemukan, hampir semuanya hilang atau mungkin memang belum ditemukan. Suatu keanehan lain dari Padang Lawas ialah bahwa di samping arca besar itu dahulu berdiri sebuah arca kecil lain, yang terlihat dari beberapa temuan arca kecil dan lapik kecil di dekat atau di dalam bilik biaro. Pada halaman-halaman biaro itu masih ditemukan beberapa benda lain seperti arca perunggu, yaitu dari Gunung Tua ternyata dibuat di Sumatera sendiri. Walaupun temuan-temuan yang kecil itu dan juga prasasti-prasasti dari Porlak Dolok menunjukkan perhubungan-perhubungan dengan India Selatan, seni bangunan dan seni pahat mempunyai corak sendiri, dan tidak dipengaruhi India Selatan.

Demikianlah pandangan ringkas kita. Kesimpulan ialah, bahwa kepurbakalaan di Padang Lawas itu adalah sungguh menarik hati, dilihat dari sudut sejarah, ilmu keagamaan dan seni bangunan. Moda-moga peninggalan-peninggalan purbakala itu dapat diselidiki lebih lanjut di kemudian hari, agar bertambah pengetahuan kita tentang kemegahan dan kejayaan dari kerajaan yang dahulu berkembang di sekitar Sungai Panei dan Barumin itu.

37