Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/34

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


arcanya masih dapat dilihat di Museum Jakarta, yaitu arca yang terbesar yang berlapik tengkorak. Arca Heruka dari Padang Lawas tampak juga sedang menggerakkan kakinya di atas jenazah, dalam tangan kanan ia memegang sebatang wajra dan dalam tangan kirinya sebuah mangkuk tengkorak. Sebuah tongkat dijepitkan di bawah lengan kiri. Sebuah selempang tengkorak menghiasi badannya. Dalam sebuah buku Hindu yaitu Sadhanamala ada tertulis, bahwa seorang penganut harus membayangkan Heruka itu sebagai berikut:

"berdiri di atas jenazah dalam sikap ardhaparyanka (setengah sila) berpakaian kulit manusia, tubuhnya diulas abu, dalam tangan kanan sebuah wajra yang berkilauan, dan dalam tangan kiri sebuah khatwangga, berhiasan panji yang melambai-lambai, serta sebuah mangkuk tengkorak yang berisi darah: selempangnya berhiasan rantai dari lima puluh kepala manusia, mulut sedikit terbuka karena taring: sedangkan nafsu berahi ternyata dari matanya, rambutnya yang kemerah-merahan berdiri ke atas: arca Aksobya dalam mahkotanya dan anting-anting dalam telinganya, ia berhiaskan tulang manusia dan kepalanya berhiaskan lima buah tengkorak: ia memberi kebudhaan dan dengan semedinya melindungi terhadap mara-mara (setan-setan) di dunia”.

Arca Heruka dari Bahal II itu, wujudnya sesuai sekali dengan uraian tentang Heruka yang terdapat dalam buku Hindu itu. Yang usang sekali pada arca itu ialah khatwangga, yaitu tongkat yang seharusnya terdiri dari: cis atau wajra sebagai ujung, di bawah itu sebuah tengkorak putih, sebuah kepala merah seorang laki-laki tua, kepala biru seorang pemuda, sebuah wicwawajra, dan sebuah bejana amerta. Kemudian muka arca itu, yang kini sudah usang juga, harus berupa buas, yaitu dengan mata terbelalak dan bertaring bengkok yang keluar dari sudut mulutnya. Dalam rambutnya yang bernyala-nyala itu dahulu terdapat sebuah arca Aksobya kecil, yang kini telah hilang.

Dr. Bosch menunjukkan persamaan yang terdapat dalam khatwangga itu dan tunggal panaluan, tongkat sihir Batak yang ternyata baik dari susunannya, di mana kepala orang menjadi unsur yang terpenting, maupun dari sifat-sifat lainnya, karena baik ujung khatwangga, yaitu wajra, maupun ujung tunggal panaluan mewujudkan kilat dan kedua senjata itu digunakan sebagai pembinasa musuh. Juga sifat memegang khatwangga itu sesuai dengan sifat pemegang tunggal panaluan, karena keduanya dapat dianggap sebagai penyihir.

Dalam bilik Biaro Bahal II terdapat juga sebuah arca lain yang kecil, yang mewujudkan seorang Bhairawi yaitu seorang Bhairawa perempuan. Arca itu berambut keriting, beranting-anting bundar, berselempang untaian tengkorak. Tangan kirinya memegang sebuah mangkuk, tengkorak di hadapan dada, tangan kanannya di letakkannya di pinggang, seraya memegang wajra dan pisau. Kakinya berdiri di atas jenazah. Arca itu dahulu mungkin dihiasi selapisan emas yang ternyata dari lubang-lubang kecil sekeliling arca itu.

Halaman Biaro Si Pamutung menghasilkan juga dua buah arca yang merupakan sepasang Bhairawa-Bhairawi. Mereka mempunyai mata terbelalak, kening yang bentuknya sedemikian sehingga air mukanya menunjukkan amarahnya. Dari mulut mereka keluar sepasang taring. Tidak diketahui di mana sesungguhnya tempat kedua arca itu. Mungkin mereka bertempat di atas batur pendopo yang terdapat di depan biaro induk itu. Ketika diadakan penggalian, maka Si Pamutung yang namanya berarti Durhaka tak menghasilkan arca dari biaro induknya. Suatu hal yang ganjil ialah bahwa hampir semua arca yang dahulu menghiasi bilik-bilik candi-candi induk itu hilang atau mungkin belum ditemukan.

Demikianlah arca-arca yang dengan nyata menunjukkan ke arah wajrayana itu. Adanya agama Ciwa, yang rupanya dianut di samping aliran Buddha itu, ternyata dari sebuah arca Ganeca yang ditemukan di Aek Sangkilon. Orang-orang menduga bahwa kepurbakalaan di Bara juga dimaksudkan untuk agama Ciwa karena bangunan itu tidak mempunyai tubuh bundar, melainkan berbentuk empat-segi, dan payung yang biasanya menghiasi stupa tidak ditemukan di situ. Di dalam bilik terdapat sebuah persajian yang berhiasan ular naga yang dapat mengeluarkan air dari mulutnya, air yang ditumpahkan kepada persajian itu oleh orang-orang yang membawa sajian ke situ. Karena itu Dr. Schnitger berkesimpulan, bahwa bangunan di Bara itu bersifat agama Ciwa.

29