Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/23

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi



menduga bahwa Candi Singosari itu mempunyai dua tujuan, ialah bahwa kaki-candi dengan bilik-biliknya diperuntukkan kepada agama Siwa, sedangkan tubuh-candi kepada agama Budha. Anggapan itu tidak akan bertentangan dengan pandangan keagamaan pada waktu itu yang bersifat campuran dan bercorak Tantra. Tetapi tidak ada arca-arca Buddha didapatkan di lapangan percandian itu.

Atap-candi itu hanya sebagian saja yang tinggal. Berlawanan dengan bagian-bagian yang lain, maka pada atap itu sudah dikerjakan hiasan-hiasan yang halus. Hal itu jelas menunjukkan bahwa penyelesaian candi itu dikerjakan dari puncak ke bawah. Kenyataan semacam itu sering kita lihat juga pada candi-candi yang lain, misalnya Candi Sawentar di dekat Blitar. Dengan sendirinya maka karena tidak selesainya hiasan-hiasan itu diperoleh kesan yang lain tentang candi itu daripada yang dimaksudkan semula.

Seperti telah dikatakan di atas, Candi Singosari itu dahulu tidak berdiri sendiri. Di sebelah selatannya tepat, masih dalam lingkungan lapangan percandian itu juga, terdapat sebuah batur. Mungkin di atas batur itu dahulu terdapat bangunan-bangunan kecil dari bahan yang lekas rusak, seperti pada Candi Kidal. Selanjutnya dahulu terdapat lagi sekelompok bangunan-bangunan beberapa ratus meter di sebelah baratdaya candi itu. Pada permulaan abad yang lalu sebagian sisa-sisa mereka itu masih kelihatan. Tetapi bagaimana bentuknya dan apa gunanya tidak jelas. Ditinjau dari jumlah dan sifat arca-arca yang terdapat di situ, dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa dahulu di sana terdapat sekurang-kurangnya lima buah bangunan suci, mungkin lebih. Sebagian bersifat Siwa dan sebagian bersifat Buddha. Sebuah prasasti yang berasal dari lapangan percandian itu dan berangka tahun 1351 M., menyebutkan pendirian sebuah bangunan suci untuk para pendeta Siwa dan Buddha yang meninggal bersama-sama Kartanegara. Dari keterangan iu mungkin dapat ditarik kesimpulan bahwa bangunan itu bersifat campuran, yang tidak akan mengherankan mengingat agama pada waktu itu, yang merupakan campuran antara agama Siwa dan Buddha dengan nyata sekali bercorak Tantra. Barangkali bangunan itu dahulu antara lain memuat arca Brahma dan beberapa arca resi yang terdapat pada lapangan percandian itu. Arca-arca itu sekarang ada di tempat lain, dan salah satu dari arca-arca itu kini ada di Malang. Sebuah candi

Stupa Sumberawan
18