Halaman:Amerta - Berkala Arkeologi 2.pdf/19

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi


Hanya Arjunalah yang akan menolong dewa-dewa asal saja ia disadarkan dari tapanya. Sementara itu Niwatakawaca sendiri menyerang Arjuna dengan jalan menyuruh patihnya pergi ke Indrakila. Patih itu berubah menjadi seekor babi hutan dan menggempur gunung itu. Karena terganggu maka Arjuna melepaskan panah ke arah binatang itu, tetapi pada waktu itu juga Ciwa yang telah menyamar sebagai pemburu dan datang ke sana untuk mencoba Arjuna, memanah binatang tersebut. Timbullah pertengkaran siapa yang membunuh babi hutan itu, sebab kedua panah itu telah lebur menjadi satu. Akhirnya Arjuna memegang kaki Ciwa untuk membantingnya, tetapi pada saat itu juga Ciwa memperlihatkan ujudnya yang sebenarnya. Kemudia ia memberikan panah kedewaan kepada Arjuna yang akan menolong para Pandawa mengalahkan musuh-musuhnya kelak. Maka pergilah Arjuna, yang telah terganggu tapanya itu, ke Kayangan Indra. Di sana ia mendapat perintah untuk pergi ke istana Niwatakawaca bersama-sama Suprabha akan mengetahui rahasia kekebalannya. Dengan tipu muslihat berhasilla ia, kemudia raja raksasa itu bersama-sama pengikut-pengikutnya mati dalam pertempuran yang hebat melawan dewa-dewa. Penutupnya menggambarkan Arjuna di puji-puji oleh para dewa.

Tubuh candi: Dari tubuh candi hanya sebagian kecil saja dari reliefnya yang tinggal, dengan lukisan adegan-adegan dari cerita Kresna, ialah peperangan antara Kresna dan raja raksasa Kalayawana. Kresna melarikan diri ke dalam sebuah gua. Di dalam gua itu tidurlah Raja Mucukunda melepaskan lelahnya dari peperangan bersama dewa-dewa melawan raksasa. Sebagai hadiah atas bantuannya itu ia mendapat kemurahan bahwa ia akan dapat membakar siapa saja yang ganggu tidurnya. Kresna yang dikejar-kejar oleh Kalayawana yang tidak berhati-hati itu menendang Mucukunda, karena disangkanya Kresna. Maka bersama tentaranya ia terbakar oleh api yang keluar dari pandangan mata Mucukunda.

Arca-arca: Arca-arca yang merupakan bagian dari Candi Jago sekarang tidak ada lagi di sana, kecuali beberapa buah, di antaranya arca induknya. Dari arca-arca itu ada beberapa kelompok yang besar dan berdiri, dan sekelompok yang lebih kecil dan duduk. Semuanya bersifat Buda dan nama-namanya tertera dalam huruf Nagari pada sandarannya. Kelompok arca yang berdiri terdiri atas lima buah yang mula-mula merupakan arca-arca perwujudan yang asli, dan berdiri dalam bilik candi. Kelima arca itu merupakan arca induk, Amoghapaca yang bertangan delapan, dengan empat orang pengikut. Arca induk itu mungkin sekali juga merupakan arca perwujudan Wisnuwardhana; kepalanya yang telah lama hilang memuat lukisan Amitabha di dalam mahkotanya, sebagaimana tertera dalam lukisan yang ada pada sandarannya.

Arca-arca pengikutnya kini ada di Museum Jakarta, ialah Sudhakanakumara dengan sebuah kitab di bawah lengan kirinya, Cyamatara dengan kedua tangannya di muka dada, Bhrkuti bertangan empat dan memegang sebuah kendi, tricula, dan aksamala, dan yang terakhir ialah Hayagriwa yang berupa raksasa dengan perhiasan kepala yang terikat tinggi, perhiasan-perhiasan ular, sebuah gada, dan tangan kanannya terangkat. Semua arca itu, juga arca induknya, diapit oleh seroja yang keluar dari "Bonggol", sebagaimana biasa kita dapati dalam seni Singhasari.

Kelompok arca yang lebih kecil terdiri atas Budha-Budha dengan Tara-Taranya. Ada empat buah di Museum Jakarta, sedangkan yang kelima ada di British Museum di London. Mungkin dulu ada 8 buah arca, yang ditempatkan di atap candi, masing-masing menghadap ke jurusan mata angin yang dikuasainya.

Kelompok Amoghapaca dengan pengikut-pengikutnya seperti di atas yang dijadikan satu pada sandaran bersama, terdapat dalam beberapa arca perunggu kecil (kira-kira tingginya 22 cm) yang menggambarkan Boddhisattva tersebut dengan pengikut-pengikutnya dan Tara-Taranya. Menurut tulisan-tulisan yang terdapat pada sisi belakangnya, arca-arca perunggu itu dibuat atas perintah Kartanegara.

Di atas lapangan percandian Candi Jago terdapat juga arca Bhairawa yang kecil; rupa-rupanya arca itu dahulu kala ada di dalam relung belakang candi itu, dan mungkin sebagai pelindung bangunan tersebut. Arca itu ada dianggap melukiskan Adityawarman, raja di Sumatra, yang pada waktu mudanya mendapat didikan di istana Mojopahit dan mungkin sekali berdarah Jawa juga. Tidak

14