Halaman ini telah diuji baca
- KALIMANTAN SELATAN.
Pangeran Amir ditawan VOC pada tahun 1,85 dan dibuang ke Sailan.
Pangeran Nata diangkat sebagai Sultan Bandjar setelah menandatangani Korte Verklaring (Pelakat Pendek), dimana Sultan Nata memperoleh tanah pindjaman dari VOC. Rakjat marah dan melakukan perlawanan sampai Belanda meninggalkan Bandjar pada tahun 1809. Sedjak 1825 — 1857 Sultan Adam memerintah Bandjar dengan bidjaksana sehingga ditjintai rakjarnja. Penggantinja Sultan Hidajatullah pada tahun 1860 mengumumkan perang terhadap Belanda namun beliau tertawan dan dibuang ke Tjiandjur. Perlawanan dilandjutkan oleh Pangeran Antasari dan Muhamad Saman sampai tahun 1900 dengan didjadikan daerah ini daerah djadjahan Belanda. - ATJEH.
Siak Traktaat 1858 mendjadikan Sumatera Timur kepunjaan Sultan Atjeh masuk daerah kekuasaan Belanda. Karena perampasan wilajah ini Sultan Atjeh merasa kurang senang sehingga menimbulkan permusuhan dengan Belanda (1873). Mesdjid Agung di Kotaradja dibakar Belanda dan pada waktu itu djendral Kohler terbunuh. Peperangan dipimpin Teuku Umar Djohan Pahlawan jang pada bulan Februari 1899 tertembak di Meulaboh. Perlawanan dilandjutkan istrinja Tjut Nja' Dhien sampai tercawan dalam satu penangkapan massal. Pada tanggal 10-1-1903 Sultan Muhamad Dawudsjah dikepung didaerah Meuraxa.
Para Panglima Atjeh jang terkenal antara lain: Tengku Tji Ditiro, Panglima Polim, Porjut Meuriah, dsb. Sedjak itu Belanda menganggap Atjeh mendjadi wilajahnja. Tetapi anggapan ini ditentang rakjat Atjeh terus-menerus dengan tjara bergerilja sampai Djepang mendarat tahun 1942.
- TAPANULI.
Untuk memperluas daerah kekuasaannja Belanda memakai Rheinische Mission Geselschaft (RMG) dari Barmen Djerman didaerah Tupanuli. Si Singamangaradja-XXI menghalang-halanginja, sehingga ada alasan bagi Belanda untuk melakukan tjampur tangan. Pertempuran terdjadi di Bahalbatru Hubang 1877 dan Lobu Siregar dan Butar didudukinja (Belanda).
Serangan balasan dilakukan tetapi gagal, dan Belanda mendatangkan balabantuan sehingga dapat melandjutkan serangan ke Bakkara 1884. Pasukan Si Singamangaradja kemudian melakukan peperangan gerilya. Belanda dibawah pimpinan Kapten Christoffel membentuk pasukan corps brandal jang berhasil menembak mati Si Singamangaradja dan kedua putranja pada tanggal 17 Djuni 1907 di Pakpak Dairi. Ini mengakibatkan Tapanuli berangsur-angsur djatuh ditangan Belanda.
123