Istilah Hindia Belanda kemudian digunakan setelah daerah ini djatuh kedalam pendjadjahan Belanda. Nama² lain jang muntjul pada pertengahan abad ke-19 adalah “Indonesia” jang untuk pertama kalinja digunakan oleh Earl dan James Logan. Nama ini dipopulerkan kembali oleh Adolf Bastian pada tahun 1884 dengan tulisannja tentang: "Indonesien oder die Inseln des malayischen Archipels", jang berarti: Indonesia atau Kepulauan Melaju. Populernja nama ini mungkin karena pada tahun 1883 Gunung Krakatau meledak jang menggegerkan seluruh dunia, sehingga daerah ini mendjadi pusat perhatian pada waktu itu. Douwes Dekker (Mulratuli) dalam bukunja "Max Havelaar" menggunakan nama “Insulinde", sedangkan orang Indonesia sendiri ada kalanja menjsbutnja "Ibu Pertiwi”. Pertiwi adalah seorang Dewi dalam Mahabarata, jang berarti "bumi", jaitu ibu dari Sang Boma Nalakasura.
PENDUDUK.
Sebagai pegangan penentu pada sedjarah purba adalah fosil² dan alat² purba (artefact). Pada zaman Batu Pertengahan (mesolitikum) di Indonesia terdapat tiga djenis kebudajaan jang berbeda-beda, jang kesemuanja milik orang² Melanesia, Austronesia, Wedda dan Negrito.
Kebudajaan tersebut adalah :
- Bacson-Hoa Dinh, jang ditemukan dalam gua dan bukit di Indo Tjina, Siam, Malaka, Sumatera Timur (terkenal sebagai Sumatera lith), djuga di Australia, Tasmania, dan dengan melalui Kalimantan terus ke Djepang.
- Toale, artefact²nja ketjil², oleh karena itu disebut kebudajaan mikrolith (baru kerjil) jang terdapat di Sulawesi Selatan, Seram, Irian Barat dan Australia, berbentuk bulan sabit, trapesium dan segi tiga. Kebudajaan Toale ini dihubungkan dengan kepertjajaan orang² Wedda jang ditemukan di Sailan, Andamanen, Australia dan kepulauan Melanesia. Pemakaian kebudajaan jang sama terdapat di Priangan, dekat Tuban dan Besuki, djuga disekitar Danau Kerintji, dalam gua² di Djambi, Sunda Kerjil (Flores). Akan tetapi kebudajaan ini terdapat djuga di Eropah, Asia Tengah dan India.
- Sampung: Kebudajaan ini ditemukan di Sampung dekat Ponorogo, Djawa Timur. Tempat ini diberi nama "rockshelter”² jaitu gua jang indah dan luas dengan lapisan tanah setebal 3 meter jang mengandung banjak benda kebudajaan purba. Penduduk jang memiliki ketiga djenis kebudajaan itu sekarang djarang didjumpai di Indonesia. Pada permulaan zaman logam jaitu sekitar 1500-1000 sebelum Masehi di Indonesia sudah tersebut kebudajaan Dongson. Tjiri? chas dari kebudajaan ini adalah : sendjata tadjam, kampak jang tersebar di India, Tjina, Siberia dan Eropah Timur.
122