Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/94

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

• AKU SI GADIS BISU •

Ami tak kan lagi bebas berjalan-jalan karena selang infus akan mengganggunya. Jika hujan nanti reda berarti kami tak bisa keluar untuk mencari pelangi yang mungkin datang lagi.

Hujan mereda detik demi detik. Sinar matahari mulai bebas menerobos udara, menciptakan bayang-bayang pada apa saja yang ditemukannya.

Dari jendela yang menghembuskan nafas dingin, aku melihat pohon cemara di tengah taman. Aku tahu bahwa aku tidak akan lagi merasakan bulir-bulir air hujan yang tersisa di daundaun cemara.

★ ★

“Kalau besok selang ini sudah dilepas, kita ke sana lagi ya Ran,” ucap Ami yang memandang keluar jendela pada pohon cemara. Aku hanya tersenyum, juga memandang pada pohon cemara. Besok? Aku pun ingin Mi. Namun, masih adakah waktu yang tersisa?

“Besok mungkin aku pulang,” dengan hati terhimpit galon, aku mengatakannya juga. “ Luka di kepalaku hampir mengering, jadi aku sudah boleh pulang.”

Ami mlihat bagian kepalaku yang tak berambut dan ditutup denga kain perban. Tawanya meledak seketika, sementara aku pun nanap seketika. Aku tak mengerti mengapa dia harus tertawa. Ini sangat jauh dari skenario yang sebelumnya tersusun di kepalaku.

“ Aduh..! duh!” Ami mengaduh, kontan tawanya terhenti. dia meringis karena kesakitan pada tangan yang tersambung dengan selang infus.

‘ Rasain! Sudah tahu sakit, masih juga ngetawain teman!” Umpatku.

“ Sakit Ran…tapi membayangkan botak di kepalamu, aku masih ingin tertawa,”

Ami tertawa lagi, tetapi juga meringis karena sakit.

“Tertawalah terus Ami, karena besok aku tak lihat lagi tawamu.”

85