Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/91

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

“Rani….Aku panggilkan Suster Eni ya” Ami berdiri, siapsiap melangkah, tetapi setelah satu langkah dia berhenti dan berbalik. Beberapa kali jidatnya menjadi sasaran tepukan tangannya.

“Kita saja yang ke Suster Eni.” Dia membantuku berdiri.

“Ha ha ha ..!” Tawaku meledak begitu Ami berhasil membantuku berdiri dan hendak memapahku dengan susah payah. Sekarang gantian Ami yang terdiam, menatap lurus ke rona wajahku yang mungkin telah berubah seperti udang goreng.

“Ran, jangan pura-pura sakit. Sakit itu tidak enak Ran,”

Ups..aku menghentikan tawaku demi mendengar suara Ami. Kini kami benar-benar terdiam dan saling tatap.

Sepasang burung gereja hinggap di ranting cemara, tepat di atas kami. Tekanan tubuhnya membuat ranting bergoyang dan menjatuhkan bulir-bulir air ke arah kami. Dengan kompaknya kami mendongakkan kepala ke atas. Mungkin kami juga akan sama-sama memarahi burung-burung itu atas ketidaksopanannya mengganggu acara kediaman kami. Namun, burung-burung itu buru-buru melesat tebang. Lagi-lagi gerakannya yang tiba-tiba membuat bulir-bulir air menyerang kami kembali. Sepeninggal burung-burung itu, hanya satu detik kediaman di antara kami bersambung, karena detik berikutnya kami sama-sama tertawa.

★ ★

“Hari ini kamu sudah ingat apa?” Tanya Ami yang berbaring di sampingku. Rerumputan seperti saling berbisik saat aku menggelengkan kepala.

“Kalau orang tuamu?”

Ayah dan ibu? Selama di rumah sakit, kedua orang yang memperkenalkan diri sebagai ayah dan ibuku hampir setiap hari selalu menemuiku. Namun, sampai saat ini mereka masih seperti orang asing yang baru kukenal. Kemarin sebelum mereka pergi,

setumpuk album berisi potongan-potongan gambar dengan wajahku hampir terekam di semua lembarnya mereka tinggalkan. Aku buka lembar demi lembar dan kuperhatikan setiap detilnya berkali-kali. Namun, hasilnya tetap nihil. Aku tak dapat mene-

82