Oleh: Aritri Mulyani
Gerimis lima menit yang lalu baru saja cuti. Aku menghambur ke taman, menghirup semerbak kelembaban lanskap, merasakan kesegaran rumput-rumput yang baru saja berkeramas. Adem. Kurebahkan tubuhku ke atas gelaran hijau rerumputan. Kubenamkan setiap sisi kulitku di antara keramaian embun-embun yang menyembul di pucuk rerumputan. Kutatap cemara yang menaungiku. Lentik daun-daunnya menari-nari tersapu angin, seolah tersenyum, sesekali menebarkan sisa-sisa hujan yang bersembunyi di sela-sela jemarinya. Tiba-tiba sisa-sisa hujan itu serempak berguguran menimpa wajahku. Rupanya seseorang mengganggu dengan menghempaskan bahunya pada batang cemara.
“Gerimis! Gerimis!” Ami bersorak sorai kegirangan begitu melihat air di cemara menyerbu wajahku. Namun, ekspresi itu cepat memudar karena ternyata aku hanya bereaksi dengan kediamanku.
“Sakit ?” Ami urung meletakkan punggung tangan kanannya ke jidatku karena aku buru-buru menarik tangan kananku dan kuletakkan ke pelipis. Aku meringis sambil mengatupkan kelopak mataku.
“Ya ampun Ran, kamu kambuh lagi?” Tanya Ami dengan tatapan panik. Aku semakin menekankan tanganku pada pelipis.
81