akhirnya ia bisa meninggalkan rumah sakit. Ia berusaha mencari buah hatinya yang telah ditelantarkannya selama bertahuntahun..
Pagi sekali Atin mencari alamat yang diberikan tetangganya di desa. Disusurinya jalan satu per satu sambil sesekali bertanya. Setelah hampir Zhuhur, baru ditemukan alamat rumah itu. Sebuah rumah megah dengan cat warna biru mendominasi sebagian besar temboknya. Perlahan sambil menata hatinya Atin menghampiri gerbang rumah itu.
Setelah memencet bel, terlihat pintu terbuka. Seorang lakilaki agak tua menahampirinya dan mempersilakan duduk. Dengan hati-hati diutarakan niatnya mencari dan ingin menemui anaknya Wulandari. Laki-laki itu diam sejenak dan memanggil istrinya. Seorang wanita yang nampak anggun dengan baju panjang dan berkerudung tersenyum ramah padanya.
Laki-laki dan wanita suami istri di hadapannya itu bercerita panjang lebar perihal anak Atin. Mereka mengatakan Anak Atin sehat dan sudah remaja. Dia cantik dan pintar. Sekarang ia telah kuliah di Universitas favorit di Jakarta. Setelah reda pembicaraan mereka, Atin minta izin untuk shalat zhuhur. Dingin mengusap tubuhnya kala air wudhu kembali membasahi raganya. Setelah shalat, Atin dipersilahkan untuk makan bersama pasangan suami istri itu yang kebetulan bernama Abdullah. Dipandanginya foto anaknya tak berkedip. Ingin rasanya ia segera memeluk tubuh anaknya untuk menghilangkan dahaga kasih sayang di kalbunya.
Hampir Maghrib tatkala suara deru mobil memasuki halaman rumah megah milik keluarga Abdullah. Seorang wanita cantik berjilbab hijau lumut memasuki rumah sambil memberi salam. Kiranya ia teman Wulandari. Ia memberi tahu bahwa Wulandari pulang agak malam sebab ada pertemuan untuk membahas seminar yang akan dilakukanya Ahad mendatang.
Maghrib telah tiba. Dengan berjamaah, Atin, Bapak dan Ibu Abdullah mengerjakan shalat. Damai sekali terasa. Detik demi detik Atin menungu buah hatinya. Hampir jam delapan malam