Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/87

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

terukir di bibir mungil gadis belia yang jadi guru ngajinya, namanya Ari. Itu yang ia tahu, sebab ibu-ibu temanya mengaji selalu memanggilnya dengan sebutan Mbak Ari.

Diantar dan dijemput oleh suaminya, itu yang sejak lama Atin perhatikan dari Mbak Ari guru ngajinya. Ah, betapa bahagianya mereka. Dan kain lebar yang menutupi tubuh Mbak Ari berkibar-kibar ditiup angin nakal yang coba mempermainkannya. Semakin lama, semakin Atin merasakan apa maknanya hidup. Dari pengajian-pengajian yang ia lalui ia makin mengerti akan Islam yang sesungguhnya. Ternyata Allah Maha Pengampun. Hidayah membukakan pintu lemari besi hatinya. Ia ingin memulai hidup baru, yang seperti kertas putih yang belum tercoreng oleh tinta duniawi.

Pagi Yang cerah……

Telepon berdering. Mbok Yem tergopoh-gopoh berlari menghampiri meja telepon. Terdengar orang bertanya di seberang,”Tinne ada?” Mbok Yem segera menjawab dan menyerahkan gagang telepon pada Atin. Terdengar kata halo membuka percakapan di seberang. Atin menebak, “Jannah ya?”. “Panggil aku Jenni, kamu bikin malu aja,” suara Jannah meninggi. “Ada apa pagi-pagi kamu sudah telepon?” Atin bertanya. “Ini tentang keluargamu di kampung. Suamimu telah meninggal karena runtuhan batu kapur saat ia bekerja.dan kini anakmu dipelihara oleh sebuah keluarga di Jakarta”. Setelah itu hening… Atin menangis sejadinya. Tak tahu harus berbuat apa.

Gundukan tanah merah mulai ditumbuhi ilalang. Tertancap sebuah nisan.Tertulis Paiman Bin Kadirin, nama suaminya. Atin tak kuat menahan air matanya. Mengapa secepat itu suaminya pergi meninggalkannya. Atin tak kuasa menahan gejolak hatinya. Ia pingsan.

Ketika sadar, Atin mendengar ada seseorang yang bertanya pada Mbok Yem. Ada hubungan apa Mbok Yem dengan dirinya. Mbok Yem menjawab bahwa Atin adalah majikanya. Atin belum boleh meninggalkan rumah sakit. Tapi dengan sedikit memaksa

78