Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/86

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

• AKU SI GADIS BISU •

Bukan rumah, tapi istana yang penuh dengan sinar lampu dan kemewahan di dalamnya. Semua telah diraihnya. Tapi di ujung nuraninya ada yang telah hilang. Senyum dan tangis anaknya dan juga belaian kasih sayang suaminya. Ia ingin pulang……, Tapi hatinya yang lain melarangnya. Tak pantas ia untuk pulang karena ia sudah tak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Ia malu dan tak berani berhadapan dengan suami dan anaknya. Ah, ia telah menjual kesucian dirinya dengan setumpuk harta yang dulu jadi impiannya. Tak terasa telah 15 tahun ia menggembara.

Bintang malam bertebaran lagi di angkasa. Persis sama ketika Atin minta izin suaminya untuk berangkat ke kota. Atin menengadah. Ia tersenyum pahit di ujung senyumnya. Ia rindu, rindu untuk pulang, bercanda dengan anaknya dan bermanja di pundak suaminya. “Tentu sudah besar Wulan sekarang. Cantikkah Wulan sekarang, apakah ia secantik aku selagi muda.” Pertanyaan tentang gambaran anaknya menggelayuti pikirannya. Dalam keresahan dan kekalutan pikirannya ia melangkah ke kamar mandi. Ia ingin berwudhu mensucikan diri. Tapi apakah air wudhu mampu menghapus dosanya yang telah menggunung. “Biarlah, bukankah Tuhan Maha Pengampun”, bisik hatinya.

Dalam sujud panjang ia menangis. Menyesali kesalahan langkahnya. Menyesali semua nafsunya dan mencoba menguak pintu ampunan Sang Maha Pencipta. Air mata membasahi sajadah panjang milik Mbok Yem pembantunya. Biarlah. Biar kutumpahkan semua perasaan yang mengglanjal dan kubersihkan lisanku dengan memuji nama-Nya, hati Atin berkata.

Sebulan ini Atin mulai ikut pengajian kampung, di sebelah istananya. Tak terasa nuansa bening menyentuh kalbunya. Di sana ia mengkaji kalam-kalam Ilahi yang selama ini hilang dan sengaja ia buang dari kehidupannya. Ia mulai berkenalan dengan guru ngaji yang masih muda ramah. Cahaya teduh di wajah gadis itu mampu meluluhkan sembrani dirinya hingga luluh lantak mengalahkan kesombongan nafsunya. “Duh Gusti, sebesar inikah anakku sekarang”, pikiran Atin menerawang. Salam lembut selalu

77