Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/85

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

kesediaan Atin untuk ikut bersamanya ke kota. Atin bimbang. Tapi dalam kebimbangan ia coba untuk mengiyakan. Besok jam 10.00 Jannah akan menjemput Atin untuk sama-sama berangkat ke kota.

Esoknya…Nafsu telah mengalahkan segalanya. Ia berangkat juga ke kota. Diiringi tangis Wulan, juga tatapan sendu suaminya. Kerasnya hidup telah mampu mengalahkan kelembutan hati Atin. Tak terasa satu dua tetes butiran air mata membasahi pipinya. Jannah menghiburnya dan terus membisikan tentang indahnya lampu-lampu kota.

Atin masih duduk di taman itu. Termenung memikirkan hidup membayangkan masa silamnya. Kini ia telah berganti nama seperti juga Jannah. Namanya berganti Tinne dan Jannah berubah menjadi Jenni. Agar tak terlalu ndeso kata Jannah. Apalah arti sebuah nama. Tapi, ia ingat pesan mendiang ibunya, bahwa namanya adalah Prihatin agar tabah menghadapi sulitnya kehidupan.

Tak terasa senja merayap di ujung cakrawala. Semburat merah di kaki langit menandakan matahari telah lelah bertahta. Angin dingin bercampur debu polusi seakan menampar wajah Atin. Itulah yang selama ini dikejarnya. Kehidupan malam yang mengantarnya pada vonis kematian. Bisu tak bersuara…

Sayup-sayup didengarnya suara adzan Maghrib berkumandang. Suara itu dulu mampu membelai hatinya. Meluluhkan seluruh rongga batinnya. Teduh, damai itu yang terasa. Walau ia tak selalu mengerjakan shalat, tapi ia selalu damai kala mendengar panggilan itu. Tapi, sekarang panggilan itu merobek dan menyayat kalbunya. Ia merasa kotor, hina, dan tak ada arti.

Dihampirinya masjid itu. Ia tak berani masuk. Ia merasa tak mampu untuk masuk. Dirinya yang kotor dan lusuh tak mungkin bercampur dengan deretan insan yang akan menghadap dan memenuhi panggilan-Nya yang suci. Dilangkahkan kakinya menyusuri jalan menuju rumahnya. Saat ia sampai di depan rumahnya, ia berhenti sejenak melihat dan memandang rumahnya.

76