Saat malam………
Hati-hati, Atin duduk di samping suaminya. Menemani suaminya memandang bintang-bintang yang berserakan di langit. Atin gelisah menunggu reaksi suaminya. Pikirannya tak tentu dan mencari-cari kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya. Dalam kebimbangan dicoba juga untuk berkata,
“ Mas, tadi siang Jannah ke sini. Jannah anaknya Lek Tomo itu lho,”. Atin berusaha menjelaskan demi dilihatnya suaminya kebingungan.” Lho, Jannah yang kerja di Jakarta itu to?” Suara suami Atin bertanya. “ Lha iya, wuih dia itu sudah hebat lho mas, hidupnya makmur dan berkecukupan,” Atin antusias menceritakan Jannah temannya. Dan dialog setelah itu mulai hambar. Atin menyampaikan keinginannya untuk ikut Jannah ke kota. Suaminya tak berani melarang, tapi tak juga mengiyakan. Dialog itu tak selesai...
Pagi sekali suami Atin telah bangun. Mempersiapkan diri menafkahi keluarga. Dan sebelum pergi, ditengoknya anak yang masis tergolek nyenyak meneruskan mimpi. Setelah berpamitan pada Atin, suaminya pergi. Ah,ini hidup betapa sulitnya,keluh batin Atin. Sejak kecil Atin selalu hidup dalam kekurangan. Bahkan untuk bersekolah pun keluarganya tak mampu membiayai. Jadilah Atin menikah dengan suaminya di usia yang sangat belia. Ia tak pernah menyesali. Toh, ia telah mendapatkan suami yang penuh pengertian, sabar, dan menyayanginya. Tapi, sudut hatinya mengatakan lain. Ia ingin juga hidup seperti Jannah. Bisa membelikan pakaian layak dan juga boneka yang selama ini hanya jadi impian anaknya. Ah, nelangsa lagi…
Ketika surya mulai menampakan sinarnya. Atin menyapu halaman rumahnya yang sepetak. Dan dilihatnya anaknya bermain-main dengan tanh dan kayu di samping gubuknya. Ah, manis sekali anaknya seandainya berpakaian bagus seperti anak Jannah. Tapi ia tak mungkin mampu membelikan pakaian semahal itu. Hasrat itu dipendamnya.
Jannah datang lagi siang ini. Ia membawa pakaian dan oleholeh yang kemarin tertinggal. Dan kembali Jannah menanyakan