Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/83

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
KIDUNG KESUNYIAN
Oleh: Desti Ayu Pranita

Siang nan terik memanggang nafsu manusia. Merambati kehi dupan. Mobil yang lalu lalang di depannya seakan tak mengerti deritanya. Ah, terbayang menerawang, menembus dinding waktu masa silam. Kala alam desa masih ramah dan hangat menyambutnya. Kala sepasang mata dan bibir mungil anaknya menangis memanggilnya. Kala suaminya tak mampu mencegah niatnya. Kala nafsunya telah mengalahkan nurani dan pikiranya.
Kala……

Desa yang tandus, gersang, dan panas. Tak ada tumbuhan yang dapat ditanam. Hanya bongkahan batu kapur yang menghasilkan tetes keringat untuk ditukar sejumput uang. Uang… uang… itulah yang dicari, dikais, dan kadang didewakan. Dengan uang itu konon orang akan beroleh semuanya. Tahta, popularitas, kebahagiaan.

Dalam rumah mungil yang hanya dikelilingi gedek dan berlantaikan tanah merah ia dan suaminya hidup tenang. Hingga suatu saat gemerlap kota merambah, masuk lewat sesosok teman mainnya. Dengan dandanan menor, Nurjannah, temannya itu, gencar dan tak henti-hentinya bercerita tentang enaknya mendapatkan uang dan segalanya. Bukan di desa gersang miliknya, tapi di sana, di kota yang syarat dengan tumpukan gedung dan keramaian.

74