bangunkan sekarang, mimpi ini terlalu menyeramkan untukku! Aku tak sanggup lagi berdiri. Seluruh organ tubuhku melemas, seperti batang besi yang tersentuh api. Layu, mencair, lemah, runtuh!
Tanah merah itu begitu anggun menggunduk. Masih basah. Bahkan aku masih bisa mencium bau keringatnya. Manis senyumnya. Tatapan bahagianya siang tadi saat menyenggolku di parkiran sekolah. Lembut suaranya yang halus menyelusup ke dasar hatiku. Tapi sekarang dia diam, bisu! Terbujur kaku di bawah gundukan tanah basah itu. Seluruh tubuhku bergetar menahan marah. Amarah yang nggak tahu harus kuluapkan pada siapa. Bahkan aku tak sempat mengembalikan diarynya. Aku belum sempat ngobrol banyak dan meminta maaf udah nggak sopan baca semua isi diarynya.
Siang itu, saat tak sengaja kami bertabrakan…dia terlihat buru-buru. Wajahnya berseri, senyumnya lebar merekah. Saking buru-burunya dia nggak sempat minta maaf udah bikin aku jatuh dan……nggak sempat lihat bus kota yang melaju kencang tak terkendali. Tubuhnya mental, tepat di depan mataku, saat darah muncrat dari kepala dan mulutnya, dia masih tersenyum. Tangannya kuat menggenggam erat sebuah amplop putih, amplop pemberitahuan bahwa pintu gerbang UI selalu terbuka lebar untuknya. Amplop beasiswa!
Kamus bahasa Sunda :
● Teu kunanaon : nggak apa-apa
● Kunaon : kenapa
● Jiga hayam ka peuncit : kayak ayam mau d sembelih