Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/79

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

“ punten, A. Permisi!” katanya cepat berlalu, setengah berlari. Nggak sopan!

“ Woi!!!” teriakku. Kurang ajar, tak sedikit pun ia menoleh. Manis!

★ ★

Akhirnya aku tahu satu petunjuk. Dia anak IPS. Aku ingat dia menulis tentang guru sejarahnya yang membosankan. Maka esok harinya kuaduk-aduk seluruh kelas IPS. Kujelajahi dari mulai kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Akhirnya kutemukan namanya, Adinda Putriani. Lumayan bagus! Dia satu angkatan denganku, dua belas IPS1. Tapi sayang, dia tak masuk sekolah dan sialnya tak ada satu orang pun dari teman sekelasnya yang tahu apa penyebabnya. Sepertinya memang benar, dia terasing.

★ ★

Bandung, 5 februari 2009; jam 3 sore

“Sudah lama aku ingin bertanya, ‘kenapa para pengemis itutemanku dilampu merah nggak malu nunduk minta belas kasihan orang padahal tubuh mereka begitu segar bugar?’Tapi pertanyaan ini cuma bisa berputar-putar di kepalaku, nggak mampu kukeluarkan. Aku juga ingin bertanya, ‘ Apakah orang-orang yang memberi mereka receh pernah ragu? Ya, ragu. jika keeping receh itu tak sampai ketangan mereka, apakah mereka masih bias makan? Namun jika keping receh itu sampai juga di tangan mereka, dengan kata lain dia telah mengajari mereka terus menjadi pemalas, terus menjadi peminta-peminta dan melestarikan kebodohan. Kau tahu. Aku pernah bertanya pada Ipul kenapa dia nggak sekolah dan dengan entengnya dia jawab, ‘kan udah bisa dapet uang ngapain sekolah?!’ aku cuma bisa geleng-geleng kepala. ‘Ssekolah itu cuma buang duit, teh!’ katanya lagi. Entah siapa yang telah mengajarinya. Dan aku cuma bisa diam, mataku kosong menatap langit. Masih bolehkah aku berharap?!”

Salam Damai, A. P

70