Kalkulus, kalkulus, kucoba mengingat lebih keras lagi. Aku yakin betul ada petunjuk yang bisa membawaku kepada pemilik diary biru di sana meski sedikit. Tapi apa?!
“ Kamu kenapa, Ga?” Evan membuyarkan susunan ingatanku.
“ Teu kunanaon.” Jawabku cepat.
“ Terus kunaon atuh ti tadi bengong wae? Jiga hayam ek dipeuncit!” Tanyanya lagi yang hanya kujawab dengan gelengan kepala.
“ Baik saya tutup pelajaran kali ini, jangan lupa PR-nya dikerjakan. Assalamu’alaikum!”
Akhirnya penderitaanku usai sudah, aku nggak kuat lagi bertahan dari suara cempreng Bu Fatim. Sementara aku memasukkan buku dan alat tulis lain kedalam tas, Evan justru mengeluarkannya lagi.
“ Kunaon, Van?” tanyaku menatap seluruh isi tas Evan berserakan di atas meja.
“ Aku lupa taruh kunci motor tadi di mana.” Jawabnya panik, namun tak begitu aku hiraukan. Mataku lurus menatap buku tebal bersampul putih milik Evan. Buku tebal berjudul Islam dan Sejarah Indonesia itu seperti menarik kuat bola mataku.
“ Yeah! Sejarah!” seruku yang langsung dijawab dengan tatapan aneh Evan. Aku tak peduli. Ya, sejarah! Sejarah!
Brukk!! Aku oleng. Mulutku lembut mencium tanah, asin kurasa diujung lidah. Pelan kuraba ujung bibirku, merah. “ Sialan!” geramku.
“ Maaf!” katanya lirih.
Kubersihkan seluruh debu di seluruh seragamku. Masih dengan kesal menggunung, kuangkat mataku- ingin kulihat seperti apa rupanya. Coroboh sekali menabrakku sampai jatuh. Hmm… cewek! Biasa banget, nggak ada make up, bahkan, sekedar polesan bedak.pun tak ada. Rambut sebahunya hanya diikat sederhana, namun malah membuatnya semakin terlihat manis. “ Hati-hati atuh, neng!” seruku galak- tepatnya kubuat galak.