di tempat menyeramkan ini karena keberuntungan mendapat beasiswa. Sudah kubilang, aku tak punya apapun untuk bisa menjadi teman mereka. Maka bagiku cukuplah ilmu dan sepoi angin di bangku taman sekolah menjadi teman setiaku.”
Salam Damai, A. P
“Teeet….teretet..teteeett!!!”
Suara bel masuk menghentikan bacaanku. Ternyata hari ini pun dia nggak datang. Kutarik nafasku pelan lalu kuhembuskan pelan-pelan, berharap sedikit penat ikut terbang bersamanya. Tuhan, aku tak pernah tahu keberadaannya selama ini. Aku tak pernah tahu ada sosok yang hanya berteman sepi di sini. Dia yang hanya bermain dengan ilmu dan kesendirian. Kuseret langkahku enggan. Gontai kutinggalkan bangku taman. Aku harus menemukannya. Tiba-tiba aku tak ingin ia terus berteman sepi. Aku ingin segera membagi pundakku untuknya. “Suer dweh!” Membiarkannya bersandar padaku selama ia menginginkanya, ‘cieee…. tapi bener kok!’ Tapi entah dengan cara apa aku menemukannya, di mana aku harus mulai menjelajah untuknya. Aku hanya tahu dia ada di sini, sekolah di tempat yang sama denganku. Dan satu lagi, A. P, inisial namanya! Tapi berapa banyak nama dengan unsur A. P di sini? Aditya Permana, Adelia Puteri, Agus Purwanto, Agung Prabowo, itu baru yang sekelas denganku, belum lainnya. Cape deeh! Kelas dua belas aja udah sepuluh kelas, belum kelas sebelas dan kelas sepuluh yang masing-masing ada tiga belas kelas. Tuhan, aku harus bagaimana?!
Oke, mungkin lebih baik kupikirkan nanti aja. Saat ini otakku tak mampu mencerna apa pun, bahkan suara cempreng bu Fatim menjelaskan rumus kalkulus pun tak dapat kudengar sepenuhnya. Ternyata aku memang sudah sampai di kelas, duduk di samping Evan temanku sejak SMP. Aku sama sekali nggak sadar sejak kapan aku nongkrong di sini. Tunggu! Kalkulus!? Aku merasa ada sesuatu dengan kalkulus. Sesuatu yang bisa menjadi petunjuk. Kuputar otakku sekali lagi, Tuhan aku mohon bantu aku!