• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •
“Tapi, Pak. Ini untuk kebaikan kita semua. Jika halaman ini milik sekolah, berarti halaman ini juga milik kami,” seru Kak Rena tak mau mengalah.
“Pokoknya, saya tidak mengizinkan kalian melakukan kegiatan ini. Jika kalian masih melakukan kegiatan ini, saya tidak segan-segan akan menghukum kalian semua!”
“Bukan maksud kami tidak sopan. Bapak silahkan menghukum kami. Kami tidak takut karena hal yang kami lakukan ini benar dan tidak melanggar peraturan sekolah yang ada,” seruku sopan.
Perdebatan kian memanas. Kami tak mau mengalah, begitu juga dengan Bapak Kepala Sekolah. Hingga perdebatan ini berhenti karena penyakit asma Dira kumat. Kami segera membawa Dira ke UKS. Sesampainya di sana Dira langsung diobati. Bapak Kepala Sekolah terlihat cemas.
“Bagaimana keadaan Dira, Bu?” tanyaku pada Ibu penjaga UKS.
“Untung Dira cepat dibawa kemari. Kalau tidak pasti ia sudah masuk rumah sakit karena kelelahan,” jawab Ibu penjaga UKS.
“Bolehkah kami menjenguk Dira, Bu?” seru Mega meminta izin.
“Tentu saja boleh. Dira juga sudah menunggu kalian, khususnya Bapak Kepala Sekolah. Dira ingin sekali bicara dengan beliau,”
Bapak Kepala Sekolah dan kami langsung menjenguk Dira. Ia sedang berbaring di tempat tidur.
“Pak, saya mohon izinkanlah kami melakukan kegiatan sekolahku hijau. Kegiatan tersebut juga bermanfaat bagi kita semua. Apakah Bapak tidak malu jika sekolah yang terkenal paling favorit di kota ini ternyata tidak hijau dan bersih?” seru Dira.
“Kalian semua benar. Jika saya menjadi kalian, pasti saya akan melakukan hal seperti ini. Sudah saya putuskan besok akan diadakan kegiatan sekolahku hijau,” seru Bapak Kepala Sekolah.
62