• AKU SI GADIS BISU •
Sayang hari ini yang menjemputku Pak Narman. Bunda tidak bisa menjemputku karena ada acara. Sesampainya di rumah, aku melihat bunda sedang duduk di ruang baca. Mungkin acaranya sudah selesai. Segera aku menghampiri bunda dan meminta ijin untuk meminta pohon kamboja jepang, untuk kegiatan yang diam-diam akan kami lakukan. Untung saja bunda menyetujuinya.
Matahari telah menampakkan dirinya. Sinarnya yang terang menghangatkan hatiku ini. Karena aku tidak ingin terlambat, segera aku berangkat sekolah dan tidak lupa aku juga membawa pohon kamboja jepang milikku yang nantinya akan kami pergunakan untuk penghijauan di sekolah.
Setelah tiba di sekolah, Mega dan yang lain sudah datang sambil membawa tanaman mereka masing-masing. Kami akan melakukan kegiatan tersebut sepulang sekolah.
Tak terasa bel pulang sudah berbunyi. Aku dan Mega segera menuju ke halaman sekolah. Kak Randha dan teman-teman sudah datang. Kami langsung melaksanakan kegiatan sekolahku hijau. Tekad dan semangat kami yang begitu besar tidak menghalangi apa pun yang akan terjadi.
Tiba-tiba Bapak Kepala Sekolah datang.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Bapak Kepala Sekolah.
“Maaf, Pak. Kami melakukan kegiatan sekolahku hijau, yaitu kegiatan penghijauan di sekolah”, seruku tanpa ada rasa takut.
“Apa kalian tidak tahu bahwa halaman ini akan dibangun ruang kepala sekolah dan ruang guru!”
. “Maaf, saya lancang. Bukankah sekolah kita sudah memiliki ruang kepala sekolah dan ruang guru. Mengapa Bapak tidak mengizinkan kami untuk melakukan kegiatan sekolahku hijau? Padahal ini semua akan bermanfaat untuk kita semua,” seru Kak Randha membela.
“Kalian hanya anak kecil, tidak tahu apa rencana kami. Dan halaman ini adalah milik sekolah!”
61