Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/69

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

Aku masuk dan menanyakan saranku dan Mega kemarin. Tak kusangka, ternyata Bapak Kepala Sekolah tidak menyetujuinya. Karena halaman tersebut akan di bangun ruangan untuk Kepala sekolah dan ruang guru. Betapa marah dan kesalnya aku. Segala cara sudah aku lakukan, Bapak kepala sekolah tetap tidak mengizinkannya.

Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi. Karena aku sudah tidak sabar ingin menyampaikan masalah ini kepada yang lain. Sesampainya di sekolah, Mega, Kak Randha, dan teman-teman yang lain sudah datang. Langsung kuceritakan masalah ini pada mereka.

“Ini tidak adil! Kita sudah punya ide sebagus ini, kenapa harus ditentang?” seru Mega.

“Iya, padahal ini demi kebaikan kita semua”, jawab Kak Randha.

“Bukannya ruang kepala sekolah dan guru sudah ada. Kenapa halaman itu tidak kita gunakan untuk hal bermanfaat?!” seru Kak Rena.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

“Aku punya ide. Bagaimana kalau besok kita membawa tanaman dan menanamnya di halaman?” usul Dira.

“Ide bagus! Tapi kita pasti tidak akan diizinkan oleh Bapak Kepala Sekolah!”

“Lagi pula halaman itu hak sekolah, berarti hak kita juga. Kegiatan yang kita lakukan juga bermanfaat!” seru Ocha.

“Tapi apa yang akan kita lakukan jika saja Bapak Kepala Sekolah mencabut tanaman yang telah kita tanam?”

“Kita tetap kokoh pada pendirian kita untuk menghijaukan sekolah walaupun harus meneteskan darah”, seru Aldy.

“Kalau begitu kita semua sepakat besok membawa tanaman dan menanamnya di halaman sekolah walaupun Bapak Kepala Sekolah melarangnya,” jawabku.

Kami semua sepakat. Rasanya sudah tidak sabar menunggu besok.

60