“Ayolah! Sebar! Apa gunanya kalau tidak disebar!”
“Jangan! Cukup hebat kau bisa membuatnya! Tapi kau jangan jadi pengecut!”
“Kau memang pengecut, kan? Kau tak pernah punya teman! Apa ruginya kau sebar?!”
Aku menatap 1 Nice Agra.jpg dan 2 Bad Agra.jpg, benar-benar bimbang. Aku bukan seorang 1 Nice Agra.jpg, bukan pula 2 Bad Agra.jpg. Aku Agra, berada di tengah-tengah, mungkin satu setengah. Ah… besok ada kuliah kelas.
Paginya, di tempat parkir, aku turun dari mobil. Lalu, lantai di bawah mobil terangkat tinggi, berjalan secara otomatis ke lantai tiga, baris ke tiga dari utara, kolom ke dua dari barat. Aku bisa melihatnya dari layar kotak di pintu ini.
Klak! Sebuah kartu merah hati bernomor 88 keluar dari sebuah kotak di samping layar dan kuambil.
“Ruang VII di lantai delapan,” gumamku.
Kulangkahkan kaki menuju koridor jalan. Cukup diam berdiri di atasnya, koridor itu akan mengantar kita. Tiba di lift, kutekan ke lantai delapan.
“Lift ini masih bening seperti satu bulan lalu,” gumamku.
Kutatap kampus ini. Hijau. Kesadaran akan pemanasan global cukup tinggi. Banyak sekali pohon-pohon, ada beringin, cemara, akasia, semak-semak, bunga-bunga alamanda, anggrek hibrida, sepatu hibrida, lili, dahlia, melati, anthurium, adenium, jenmani, dan lain-lain. Tempat parkir otomatis masih terlihat di pojok menjulang tinggi. Gedung-gedung kelas berjumlah lima belas bercat abu-abu putih berseling, juga kolam dan taman yang sejuk di pusat kampus telihat terawat.
“Untuk apa ini semua bila tiap mahasiswa hanya ke sini sebulan sekali?”
Ya, selain kuliah kelas, kebanyakan adalah kuliah di rumah atau di mana pun ia berada lewat internet. Tiap mahasiswa otomatis telah sign up ke situs jurusan lalu kuliah menghadap laptop masing-masing. Jadwal telah diatur dan umumnya tak ada yang