denganku. Ayah selalu mementingkan bisnisnya walau selalu bilang ia menyayangiku. Riko pemarah dan…”
“Error! Terlalu banyak kata yang tak dapat teridentifikasi. Kata yang diterima, ‘aku tak punya teman’, inilah solusinya.”
Kubaca, lagi-lagi hanya muncul kata itu! Bosan! Kuangkat Great Friend, tangan kanan di bagian atas, dan tangan kiri di bagian bawahnya. Kubaca dengan semangat ‘45 seperti membaca pancasila.
“Lakukan sesuatu yang besar dan rebut perhatian mereka! Satu! Selidiki kesukaan mereka! Dua! Tulis potensi-potensimu, ajari mereka tanpa menggurui! Tiga! Kunjungi internet, perluas wawasan, bicara dengan mereka! Empat! Kunjungi toko buku, belikan mereka buku-buku! Lima! Selesai!”
Ya, hanya itu dan Aibo menatapku heran. Ah… aku sudah terlalu benci dengan mereka. Bagaimana mungkin aku melakukannya? Biasanya aku terpaku pada kata-kata nomor empat. Memang, aku tahu bahwa solusi terakhir Great Friend dibuat aneh. Toko buku itu sangat jarang. Mana ada yang mau membeli buku? Itu sepuluh sampai dua puluh tahun yang lalu, mungkin, ya? Tiap rumah ada sambungan internetnya sekarang! Mengapa harus buku? Buku yang ada juga pasti terbitan dua puluh tahun lalu, sekarang tak ada lagi yang menerbitkan buku!
Aku berpikir sejenak. Mungkin ada sesuatu yang besar yang dilakukan orang-orang zaman dahulu lalu mereka tulis di bukubukunya.
★ ★
Kutelusuri katalog di layar laptop biru ini. Aku bingung buku apa yang harus kubeli. Lalu, mataku tertumbuk pada sesuatu, “Membuat Virus: untuk Pemberani yang Menantang Dunia”. Alisku terangkat. Menarik! Kutekan tombol merah di sudut.
“Masukkan kartu,” mesin di samping laptop ini berbunyi. Begitu kartu masuk, rekeningku berkurang dan …Klak! Buku itu keluar. Buku dengan sampul merah.
★ ★