“Aibo, tolong ambilkan dua roti.”
Tahu kah kamu? Mengapa piagam ditempel di langit-langit kamar? Aku pun tak tahu. Tetapi ibuku seorang master psikologi yang hebat. Aku protes bahwa sebaiknya seorang ibu menjelaskan maksud ucapan pada anaknya. Ibu hanya tersenyum dan berkata lembut bahwa aku harus mencari tahu sendiri.
“Aibo, bacakan itu untukku.” Aku menunjuk ke langit-langit kamar.
Dengan cara bicara uniknya, anjing robot itu membaca piagam-piagamku.
“Peringkat-satu-Web-Design-Competition—Peringkat-Dua-Game-Maker—Peringkat-tiga-lomba-menulis-puisi-…”
“Cukup, Aibo…”
Aku menghela napas. Ada dua belas piagam lagi yang belun dibacanya. Apa kau berpikir bahwa aku jenius? Memang, tapi… entahlah. Kubuka Great Friend-ku. Mungkin inilah satu-satunya temanku. Aibo lebih pantas disebut pembantu daripada teman, haha!
Great Friend itu semacam Personal Digital Assistant atau PDA, namun memiliki fungsi khusus yaitu sebagai teman curhat bagi manusia-manusia bermasalah. Ia menerima masukan berupa kode-kode angka yang menandakan perasaan pemilik. Kadang bisa juga menerima masukan suara. Di dalam Great Friend terdapat banyak solusi-solusi permasalahan.
“Tulis tanggal,” kata Great Friend. Ya, itulah kata pertamanya saat dibuka.
“Mmm… baiklah, tanggal berapa ya? 20 Desember 2039,” kataku sambil mengetik.
“Dua nol satu dua dua nol tiga sembilan, diterima.” Great Friend menampilkan layar oranyenya.
“Aku tidak punya teman. Mereka selalu menolakku. Apa aku salah? Apa karena aku beda dengan mereka? Apa aku terlalu jenius? Sombong? Ya, kata mereka aku sombong! Great, Deka tak mau jok mobilnya kotor oleh tubuhku. Dizra tak mau bertemu