Ayah sudah kehabisan kesabarannya hingga setiap waktu memarahi aku karena ayah beranggapan semua itu salahku. Memang itu semua salahku, tapi ke mana Lala menghilang. Aku terlalu egois. Memang, aku marah pada Lala karena arloji itu satu–satunya kenangan Bunda untuk selalu kujaga. Tapi, Lala sudah tak mau tahu perasaaanku pada arloji itu. Pulang La. Pulanglah bantu aku menghadapi ayah yang sudah sangat membenci aku. Lala telah dinanti seluruh anggota rumah. Aku menyesal telah mengutukinya dan menyia–nyiakannya.
Aku berjalan dengan mata sembabku. Tiga hari ini aku telah menanti kepulangan Lala, tapi tak ada kabar sedikit pun mengenai Lala. Padahal kue tart yang kubuat khusus ulang tahun kami yang ketujuh belas sudah mulai mengeras di lemari es. Tapi, biarlah. Gerak–gerak kakiku telah membawaku untuk menapaki jalan–jalan sepi, entah aku tak tahu ke,mana arah yang kutuju. Sesekali gema sesenggukan terdengar di telingaku. Aku menangis berharap bertemu Lala di ujung jalan sana. Langkah–langkah kecilku menuju sebuah makam. Tak lain lagi makam Bunda. Aku teringat di kala aku dan Lala dimarahi ayah, kami pergi ke makam Bunda dengan menabur bunga di atasnya. Tapi, semua itu tinggal kenangan. Lala tak ada lagi di sampingku. Langkahku terhenti seketika. Angin berhembus dalam kesunyian ini. Aku merunduk memegang sesuatu di hadapanku. Lala.
Mataku seketika terbelalak menemui tubuh itu terbujur kaku di tanah merah. Wajah yang memelas memohon maaf melukiskan senyum persaudaraan denganku. Kudekati tubuh itu. Jantung pun tak sanggup berdegup di tubuhnya. Darah pun tak mengalir di nadinya. Saraf–saraf pun sudah mati untuk menggerakkan setiap langkahnya. Kiranya ia sudah menyusul Bunda ke surga karena salahku.
“Lala. La, bangun La. Kamu ngapain tidur di sini?” Ucapku sambil menggoyang–goyangkan lengan kanannya. Tak ada sahutan dari Lala. Akhirnya, kujatuhkan Lala dari posisi semula. Rambut panjang Lala menutupi sebagian wajahnya yang putih pucat.