• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •
kardus itu. Aku menjadi marah setelah melihat benda yang ada di dalamnya mirip arlojiku yang lama. Mataku memanas. Sedetik pun air mataku meleleh.
Kutatap seseorang yang berdiri tersenyum di hadapanku. Senyumannya memang semanis senyumanku karena dia adalah saudara kembarku. Lala. Ya, Bunda memberi nama Lala dan Lili untuk kami. Sebelum sepeninggalan Bunda, kami selalu akrab belum pernah di antara kami ada permusuhan.
“Apa maksud kamu? Dengan ini, kamu kira aku bisa maafin kamu? Kembaliin arlojiku seperti dulu lagi!” Bentakku pada Lala.
“Li, itu untukmu. Terus apa yang harus aku lakukan kecuali mengganti arloji itu? Arloji itu susah untuk dibenahi Li.” Senyuman Lala seketika lebur.
Arloji palsu itu kubuang begitu saja tepat di mukanya. Aku benci dengan Lala. Aku tak menganggapnya saudaraku lagi. Suaraku meninggi menyumpah serapah di luar kendali seperti orang gila. Sambil menangis sesenggukan. Lala pun semakin terpuruk dalam posisinya. Arloji dan kardus pembungkusnya kembali padanya dengan tidak terhormat. Usaha yang dilakukan untuk membenahi arloji itu musnahlah sudah. Butiran–butiran air mata mengalir begitu saja tak tertahankan.
“Memang benar kata Lili, aku benar–benar tak sebegitu mudahnya untuk dimaafkan. Hanya ini arloji kenangannya sama Bunda. Tak ada yang lain.” Sesal Lala dengan tubuh tetap berdiri di tempat yang tadi.
★ ★
Ketika kakiku melangkah membuka pintu kamar. Sesekali aku mendengar seseorang menangis. Tak kuhiraukan jika itu tangisan Lala. Batinku, biar dia merasakan apa yang kurasakan dalam keterpurukan pederitaanku ini.
Aku keluar kamar, gelap keadaan ruang keluarga. Perubahan sikapku setelah dua tahun sepeninggalan Bunda membuat keluarga ini hampa. Apalagi setelah arloji itu hancur di tangan saudara kembarku sendiri. Permusuhan antara kita tak bisa terelak-
42