• AKU SI GADIS BISU •
Dia hanya berdiri mematung menjauh dari tempatku menangis. Tangisannya pun meledak ketika kata–kata yang kurang enak keluar dari mulutku. Masih terlihat, dia menggenggam arlojiku.
Sore setelah kejadian itu berlangsung, hanya sebentar aku keluar kamar. Aku keluar untuk ke kamar mandi dan makan sore. Tak ada perbincangan antara aku dan orang yang telah menumbuhkan luka di hatiku. Rumah itu pun menjadi sunyi, sesekali hanya terdengar gelontangan piring–piring yang sedang dicuci Simbok di dapur. Simbok yang sudah sejak belasan tahun bekerja di keluarga kami belum pernah merasakan keadaan segamang seperti hari ini. Tapi, Simbok tak tahu apa yang harus dilakukannya karena Simbok tak punya kuasa untuk mengatur majikan kecilnya.
Sepulang sekolah kuhabiskan waktuku di dalam kamar. Seperti kemarin rumah itu terlihat sepi. Dia tak terlihat saat aku keluar kamar. Pastinya dia tahu kalau aku masih marah padanya karena semenjak itu di sekolah aku tak berbincang dengannya. Kubuka mataku kantukku saat aku mendengar suara bel rumah berbunyi nyaring dan kutatap jam dinding kamarku, jam delapan malam, teringat jelas jam itu adalah saat–saat terakhir di mana Bunda kembali pada-Nya. Masih saja rumah itu sepi. Tak terdengar suara lain menuju pintu depan. Aku pun beranjak mendekati pintu rumah. Saat aku membukanya, seseorang itu asing bagiku. Aku tak kenal dengan orang itu.
“ Apakah benar ini Mbak Lili?” Tanya Ibu separuh baya di hadapanku.
“ Iya, saya sendiri. Ada apa ya?” Seruku tanpa senyum sedikit pun pada ibu itu.
“ Ini tadi ada titipan dan tolong tanda tangan di kertas ini!” Kardus kecil itu diserahkan kepadaku dan kertas kecil kutandatangani. “ Terima kasih.” Ucapnya pergi begitu saja.
Aku tak tahu isinya. Kardus itu kecil. Aku kocok. Seperti benda kecil, tapi berat yang ada di dalamnya. Tak tahan, kubuka
41