Malam itu pun menjadi malam pertama di mana kami sekeluarga menempati rumah baru yang dibeli ayah untuk hadiah ulang tahun Bunda, Sebelum kami tiba di rumah itu kami pergi berlibur ke kebun teh sambil mengambil foto untuk kenang-kenangan. Dengan rasa yang amat penasaran, Bunda langsung membuka pintu rumah baru kami setelah Ayah memarkirkan mobil di halaman.
Benar, Ayah tak bohong dengan kami. Rumah itu mewah, tapi tidak terlalu besar. Lampu pun bersinar begitu gemerlap di eternit. Kami putuskan untuk duduk– duduk sebentar di sofa kamar tamu sebelum berkeliling melihat–lihat seisi rumah. Di tengah–tengah ramainya suasana aku terkejut melihat tangan Bunda begitu istimewa, ketika Lala sedang membuatkan teh manis untuk Bunda di dapur.
“Apa itu Bunda?” Tanyaku menunjuk benda yang melingkar cantik di tangannya.
“Ini arloji sayang. Kemarin sebelum kita pindah, Ayah yang ngebeliin buat Bunda. Kamu mau coba?” Kata Bunda seraya memberikanku benda cantik itu. Sesaat kupakai benda itu menambahku lebih anggun. Ayah pun tersenyum melihat tingkahku. Dari dapur tiba–tiba terdengar jeritan Lala. Kami bertiga pun menuju ke dapur. Kobaran api yang berasal dari kompor gas tiba–tiba menyambar Lala. Ayah pun menyeretku untuk keluar. Dalam hitungan detik suara ledakan terdengar memecah gendang telinga. Terlihat Lala berlari sempoyongan tanpa Bunda.
Api ganas melalap seisi rumah kami. Kebahagiaan yang baru saja kami rasakan lenyap seketika. Arloji masih menempel lekat di tanganku. Gemerlap liontin yang menghiasinya memancarkan sinar, sebening air mata kehilanganku. Senyum Bunda yang selalu menyejukkan hati kini tak ada yang menggantikannya. Keputusan–keputusannya yang bijaksana tak lagi bersuara menentang pendapatku. Beliau telah berpulang pada-Nya.