“Kamu kenapa sayang?” Seorang wanita berpakaian suster masuk sambil memegangi tanganku dan disusul dengan temantemannya.
Tubuhku semakin gemetaran, hingga kejang-kejang. Jeritanku memekakkan telinga orang–orang yang masuk kamarku. Kira–kira dua orang mengangkatku dan lainnya membersihkan serpihan-serpihan kaca yang beserakan di lantai. Selang–selang putih itu membuatku ngeri. Tanganku sakit ketika jarum infus yang tajam ditusukkan ke tanganku. Aku semakin histeris menjerit sejadi-jadinya ketika seseorang menusukkan jarum ke lengan kananku.
★ ★
Kutepis tangannya ketika ia memohon maaf padaku sesaat setelah arloji peninggalan Bunda pecah di tangannya. Raut mukanya tak jauh berbeda denganku. Wajah bersalahnya sangat terlihat.
“Li, maafin aku. Aku janji kalo kamu mau maafin aku, aku mau beliin apaaa aja yang kamu pengen. Beneran.” Rayunya padaku.
Arloji itu tetap digenggamnya. Kata–katanya sudah tak kupercaya. Isak tangis yang keluar tak henti–hentinya dari kelopakn mataku, mengajaknya untuk mengelus rambut panjangku. Dia tak menyerah begitu saja dengan tingkahku.
“Li, kamu denger kata–kataku! Kamu nangis gini cuma bercanda kan? Aku bener–bener gak sengaja, tadinya cuma mau aku pinjem. Tapi malah jatuh. Li, maafin ya!” Mohonnya lagi padaku.
“Lepasin!” Tangan yag mengelus rambutku seketika kutampar dengan tangan. “Pergi kamu dari kamarku. Kalau perlu pergi sekalian dari hadapanku. Aku benci kamu.” Amarahku pun meledak hingga caci-maki keluar dari mulutku mengalahkan segalanya karena dia telah menghancurkan satu–satunya kenangan yang tersisa dari Bunda.
★ ★