camuk malam itu dengan menutup mataku. Berharap aku dapat bermimpi indah dan mendapati hari esok yang cerah.
Hari minggu, hari bebasku. Biasanya di tanah lapang ramai dengan orang walaupun cuma bermain. Tak sedikit pula orang berjualan di tepi sungai karena biasanya banyak orang yang menyeberang sungai. Aku ke situ ke tempat biasa. Duduk di atas reruntuhan batu. Tapi kali ini aku tak membawa kertas seperti biasanya. Persediaanku habis dan aku tak sempat memulung. Aku hanya melihat orang berlalu-lalang. Sesekali kulihat pertandingan sepak bola yang tampak menghebohkan. Kali ini bukan hanya anak-anak saja yang bermain, tapi sebagian orang tua pun tak ingin kalah bermain. Ramai sekali siang itu. Tapi, kasihan orang-orang yang membawa layangan. Angin tak kunjung datang. Mereka hanya duduk dan sesekali mengulur benang. Aku hanya duduk sendirian saja, tak bergabung dengan para remaja yang ingin mencari kerang di pinggir sungai. Tiba-tiba sebagian anak yang membawa layang-layang tadi pergi. Ternyata layangannya tersangkut pohon dan robek. Mereka meninggalkan kertas layang itu. Lalu kudekati kertas itu. Kertas itu seakan-akan menyuruhku untuk memungutnya. Ah... mungkin karena aku sedang membutuhkannya. Kuambil kertas itu. Kurogoh saku celanaku. Ternyata pensil itu belum aku keluarkan. Aku mulai menulis.
“Tuhan baru kali ini aku menulis namaMu. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas segala kebaikanMu. Aku tahu ini semua rencanaMu. Terimakasih atas bapak yang telah kauberikan kepadaku. Terima kasih Tuhan.”
Kutinggalkan kertas itu. Hari sudah mulai sore dan matahari mulai terbenam. Aku ingin segera pulang. Kulewati tanah lapang yang mulai ditumbuhi alang-alang. Setelah beberapa melangkah, aku melihat kebelakang. Kulihat secarik kertas itu melayang dihempas angin senja. “Terbanglah kertas, sampaikan pada Tuhan.” Kataku dalam hati. Lalu kulanjutkan perjalananku untuk pulang.