• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •
kunjung kutemukan. Apa kakakku membuangnya? Aku tak kunjung menemukannya. Tiba-tiba Bapak menghampiriku. Dia menyodorkan sesuatu kepadaku.
“ Apa ini yang kamu cari? “
Aku menoleh dan tak segera menjawab. Apa yang kucari ternyata ada di genggaman Bapak.
“ Kenapa ada di tangan Bapak? “
“ Bapak sudah membaca semuanya dari kemarin. “
Lalu Bapak keluar dan tak segera menyerahkannya kepadaku. Aku mengikutinya dan duduk di sampingnya.
“ Bapak sudah baca semuanya.” Setelah menyodorkannya kepadaku Bapak melanjutkan lagi perkataannya.
“ Bapak minta maaf Nak. Bapak salah selama ini. Bapak sayang sama kamu Nak. Cuma kamu yang bisa mengerti keadaan Bapak. Kamu anak terbaik Bapak. Mungkin selama ini Bapak hanya memendam rasa kecewa dan dendam atas meninggalnya Ibu kamu dan melimpahkannya kepadamu. Bapak merasa sangat kehilangan Ibu kamu. Tapi, kamu yang selalu mengingatkan Bapak terhadap Ibu kamu karena sikap kamu yang mirip Ibu kamu. Maka dari itu, Bapak jadi ingat dan kesal akan kejadian masa lalu. Maafkan Bapak ya Nak.”
“Bapak “ Hanya kata itu yang sanggup aku ucapkan. Kutatap wajahnya yang kusam. Keriput kulitnya semakin bertambah. Bapak tak lagi muda. Sudah lama aku ingin Bapak merasakan sakit hatiku. Ingin kulontarkan segala amarahku selama ini. Tapi aku tak bisa. Masih kutatap Bapak yang sedang memandangi langit malam itu. Aku tak tahu harus berkata apalagi. Hanya satu kata yang ada dalam hatiku. “Aku sayang sama Bapak”. Kutinggalkan Bapak sendirian malam itu. Aku masuk ke kamar, merenungi apa yang telah Bapak katakan. Sungguh hatiku sangat bahagia. Tapi, kami masih canggung. Biasanya kami selalu berdebat setiap hari. Tapi, kali ini aku harus menjadi seorang anak yang patuh kepada Bapaknya, dan Bapak yang amat menyayangi anaknya. Kuakhiri segala perasaanku yang berke-
36