Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/43

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

makan dan membantu berjalan. Tapi Bapak masih saja sering mengomel kepadaku. Aku ingin pergi lagi setiap Bapak marah, tapi tak bisa. Selain kegiatan tadi, aku melakukan kebiasaanku, yaitu menulis. Walaupun tak kulakukan di tanah lapang, tapi kulakukan di rumah. Kertas sobek pun aku pakai. Bapak terus mengamatiku ketika aku menulis. Mungkin Bapak heran kenapa aku bisa menulis. Mungkin dia lupa jika aku pernah belajar.

Keadaan Bapak semakin membaik. Sekarang Bapak tak perlu bantuanku untuk berjalan. Sehingga aku bisa meninggalkan Bapak lebih lama. Tawaran memperbaiki barang elektronik juga sudah datang. Dan yang membuatku senang, akhirnya aku bisa kembali ke tanah lapang.

Malam yang amat dingin, tapi bulan purnama bersinar menerangi malam ini. Sinarnya menerobos celah-celah genting rumah yang sudah tak rapat lagi. Jadi, kami tak kegelapan malam ini. Aku melihat Bapak duduk terdiam di kursi tua di teras depan rumah. Tiba-tiba kakakku menyenggolku karena pintu rumah tak cukup bila dilalui dua orang dengan bersamaan. Entah ke mana ia pergi. Dengan ragu-ragu dan takut aku menghampiri ?Bapak dan duduk di kursi lain yang menghadap ke dalam rumah. Bapak masih menatap langit. Aku mencoba berkata sesuatu walaupun aku takut jika aku akan mendapatkan omelan dari Bapak.

“ Bapak sedang apa ?” tanyaku.

“ Kamu belum tidur Nak?” Jawabnya.

Aku tersentak kaget. Kupandangi wajah ? Bapak. Apa aku sedang mimpi. Apa aku tak salah mendengar jawaban dari Bapak? Tapi hatiku sangat senang. Aku masih belum yakin dengan apa yang dikatakannya.

“ Iya, Pak. Bapak juga belum tidur?” tanyaku lagi. “ Bulannya bagus ya Pak”

“ Iya, bagus sekali.”

“ Bapak ingin ke bulan?”

“ Bapak lebih suka di bumi.”

“ Kenapa Pak?”

34