Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/42

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• AKU SI GADIS BISU •

rafia. Belum sempat aku melemparkan bola itu ke dalam lapangan aku dikagetkan oleh suara teriakan tetanggaku.

“ Mbak... cepat pulang!” teriak bocah itu sambil berlari ke arahku.

“ Kenapa?” Aku tak menghiraukan anak-anak yang meminta bola sepak yang masih kugenggam itu.

“ Bapak jatuh, kakinya patah. “

Sejenak aku terdiam. Aku kaget. Bocah tadi menggeretku dan memaksaku untuk berlari.

Di rumah orang-orang berkerumun. Ya ampun Bapak, apa yang terjadi? Aku mendesak orang-orang tadi dan mendapati Bapak tergeletak di tempat tidur. Benar kata anak tadi, kakinya patah. Tapi, aku lega karena Bapak tak mengalami luka yang serius. Ternyata Bapak jatuh dari pohon kelapa karena diminta memetik kelapa muda milik tetangga. Untung ada tetangga yang pintar mengurut. Jadi dia mau mengobati luka Bapak tanpa minta upah yang mahal. Terpaksa uang tabungan yang akan digunakan untuk membeli beras itu diambil untuk membayar Pak Sumir, tukang urut di desa kami. Sejak kejadian Bapak jatuh dari pohon, aku tak pernah melihat kakak pulang menjenguk Bapak. Biarlah, memang biasanya juga tak pernah pulang.

Untuk beberapa hari Bapak tak bisa berbuat banyak. Ia tak bisa bekerja. Padahal kami butuh uang untuk hari esok. Terpaksa aku menjual buku-buku yang aku beli setiap aku dapat uang lebih. Buku-buku yang akan aku gunakan untuk menulis segala isi hatiku di tanah lapang itu. Tapi, sulit juga menjual buku karena tak ada anak yang bersekolah di desaku. Untungnya warung di sebelah mau dibayar dengan barter, jadi mungkin dia mau dibayar dengan beberapa buku. Tiga buku yang aku sayangkan, yang tak pernah kugunakan harus aku jual sebagai tambahan upah Bapak dari membetulkan radio tetangga yang baru dibayar itu untuk membeli beras.

Setelah mencari sampah dan menjualnya sendiri ke pembeli barang rongsokan, aku harus mengurus Bapak. Mengambilkan

33