Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/41

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

lalang menyeberangi jembatan sungai. Tak hanya sebagai tempat penyeberangan dari desa lain, tapi juga sebagai tempat bagi orangorang yang ingin melihat terbenamnya matahari atau pesawat yang hendak mendarat dan terbang. Tempat itu memang stategis. Beruntung tanah lapang itu tak digunakan pemiliknya untuk membangun usaha. Jadi, kami bisa bermain di situ. Hanya sedikit yang seumur denganku walaupun aku pun tak begitu tahu umurku berapa. Ya... kira-kira belasan tahun, mungkin 16 tahun. Di tanah lapang itu, aku tak ikut bermain sepak bola seperti waktu aku kecil dulu, atau ikut mengulur layangan. Di tempat itu aku hanya duduk di bongkahan batu bata yang agak tinggi. Setiap hari aku selalu menulis sesuatu di lembaran kertas yang aku dapatkan dari memulung. Walaupun tidak sekolah, tapi aku masih bisa menulis dan membaca. Dulu ada beberapa orang yang ditugaskan untuk mendidik anak-anak di desaku. Tapi, itu tak berlangsung lama. Siapa juga yang mau mengajar di tempat kumuh dengan gaji yang tak seberapa. Untung aku sudah bisa membaca dan menulis sebelum guru-guru bantuan itu pergi. Aku juga sering membaca dari koran-koran lawas yang aku dapatkan. Membaca itu mrnyenangkan, apalagi menulis. Lewat kertas aku bisa mencurahkan semua isi hatiku.

Segala keluh kesah kutorehkan pada kertas. Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku sering menulis kekesalanku terhadap tingkah laku Bapak dan keluarga yang tak pernah kuharapkan. Aku ingin punya kehidupan baru. Jadi orang kaya yang hidupnya enak. Aku ingin punya orang tua yang baik hati. Setiap lembar selalu ada saja harapanku, harapan yang selalu diinginkan oleh orang susah.

Siang itu aku sedang asyik dengan tulisan yang kubuat di lembar kertas. Suara ricuh anak-anak lain kali ini mengganggu pikiranku. Aku tak bisa konsentrasi menulis. Padahal biasanya suara pesawat terbang pun tak mengganggu ketenanganku. Ada perasaan tak enak yang muncul dalam benakku. Duk... bola sepak menghantam kakiku walaupun tak terasa sakit. Rupanya ada yang menendang keluar lapangan yang garisnya dibuat dari tali

32