“Kring…kring…kring….” Benda peninggalan nenek moyang berdering. Alarm menunjukan tepat pukul 05.00 WIB. Dengan terpaksa, kubuka mataku. Bau sedap masakan tetangga menusuk hidungku. Aku segera bangun dari mimpi yang mengusik tidurku semalam. Sejenak aku termenung di bawah hangatnya selimut kusam yang tak pernah dicuci selama puluhan tahun. Suara ricuh ibu-ibu sudah bosan kudengar setiap pagi. Ah… aku harus selalu siap menghadapi hari ini, hari yang tak pernah kunanti.
Rupanya Bapak sudah ada di ruang tengah, menyiapkan alat-alat kerja. Aku keluar untuk mencuci muka di sumur milik bersama. Ya.. sumur yang setiap harinya tak pernah berhenti dikunjungi banyak warga. Maklum, sumur di desa masihlah sedikit, itu pun tak terjamin kebersihannya. Aku masuk kembali ke dalam. Mengerjakan pekerjaan-pekerjaan seperti yang dilakukan ibu rumah tangga lainnya. Sejak dianggap cukup umur oleh Bapak, aku harus menggantikan posisi ibu yang sebelumnya ditekuni oleh ayah. Ibu meninggal sewaktu melahirkan aku. Hal itulah yang selalu ditekankan kepadaku. Aku adalah penyebab dari kematian ibu, aku yang telah merenggut hidup ibuku, sampai Bapakku tidak pernah memperlakukan aku dengan kasih sayang seorang bapak. Apa karena itu Bapak benci kepadaku. Bukankah bukan salahku atas kejadian itu. Aku pun juga tak ingin Ibu meninggal karena melahirkan aku. Berbeda dengan kakakku. Ia