Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/38

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• AKU SI GADIS BISU •

kan Bapak bapak tadi, pembelian tanah secara sepihak sangat merugikan kami. Lagi pula belum ada peraturan tentang pengambilan sawah petani oleh Negara karena belum punya sertivikat. “

“Bapak jangan sok tahu. Saya ketua RT disini, saya lebih tahu dari pada kamu. Pokoknya saya tidak setuju kalau harus menyerahkan sawah tersebut. Memang Bapak bisa apa ?” Pak Ramlan meruncingkan suasana.

“Gila, sinting, Dasar tidak punya perasaan “.

“Bakar saja rumahnya….!”, petani lain menimpali.

“Tenang Bapak-bapak”, Pakdhe Cokro berteriak. Namun tidak dapat memadamkan api amarah petani yang sudah tersulut sejak kemarin. Hiruk pikuk petani semakin menggema.

“Cepat bakar rumahnya”

“Betul-betul, hancurkan rumahnya…!”

Batu-batu beterbangan menghantam dinding, kaca rumah itu. Api bergeliat menyelimuti rumah. Jeritan keluarga Pak Ramlan berbaur dengan dentingan pecahan kaca. Hingga terdengar sirine polisi meraung- raung membelah suasana malam. Namun rumah itu telah menjadi puing. Engsel jendela dan pintu itu lepas, dan gentingnya hancur. Dinding itu telah retak.

Keterangan :

1.capil = sejenis topi tradisional terbuat dari anyaman bambu. Berbentuk kerucut.
2. Dik = panggilan singkat dari adik.
3. Simbok = ibu dalam bahasa jawa.
4. Nduk = singkatan dari bahasa jawa “Genduk” (panggilan untuk anak perempuan).
5. Ora ilok (bahasa Jawa)’ tidak baik’ (bahasa Indonesia), pamali (bahasa sunda ).

29