Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/32

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• AKU SI GADIS BISU •

Mereka mungkin tidak tahu lagi pewaris petak sawahnya, karena anak-anaknya ingin jadi pilot sepertimu. Bukankah petani adalah profesi luhur. Menghidupi masarakat dengan bulir padi. Menopang perekonomian negeri ini tanpa menuntut balas jasa dari Negara. Yah, meskipun penduduknya lebih suka makan beras import. “. Namun kata-kata ini berhenti di tenggorokan, aku tidak ingin memupus cita cita itu.

“Ya sudah, sana pergi bermain ke rumah Doni. Katanya kamu suka mobil-mobilannya.”.

Tidak usah disuruh dua kali ia sudah terbang dengan kapakan tangan diiringi deru pesawat dari mulutnya. Nasib. Berapa jumlah anak Indonesia yang seperi adikku. Ingin jadi dokter, pilot, tentara, atau presiden. Negeri ini adalah negeri gemah ripah. Yang mampu menghidupi rakyatnya dari hasil bumi. Siapa yang akan mengelola tanah, udara, dan air di negeri ini?. Akankah semua anak Indonesia hanya akan menjadi pilot, tentara, dokter, atau apapun itu. Tidak ada yang mau menanam padi, menagkap ikan dilaut, atau menanam palawija. Siapa yang akan menyediakan beras di negeri ini?. Sudahlah tidak penting untuk dipikirkan.

“Anak muda tidak baik melamun. Nanti kesambet penunggu sawah ini loh. He..he..!”, Bapak mengejutkanku dengan tawa mengejeknya. Pikiranku tersentak berputar mengelilingiku, membentuk spiral masa lalu.

“Wah, Bapak keliru. Saya sedang berfikir bukan melamun.” senyumku mengembang.

“Dulu bangunan disana belum ada Nduk. Hanya sawah yang dipandang dari gubuk ini. Kalau musim menanam padi, banyak anak kecil mencari belut. Masih ingat kamu ?”, Bapak bertutur kepadaku, sambil menunjuk pembangunan perumahan di bekas area persawahan.

“Ingat Pak, dulu Sari mencari belut disebelah timur sana. Tapi sekarang sudah dibangun perumahan. Dik Sulis pun tidak pernah mencari belut sepertiku. Apa mungkin karena tidak ada

23