• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •
Bapak duduk di gubuk sambil mengipas tubuhnya dengan capil. Tentunya ia kepanasan setelah mencangkul hari ini.
“Wah, kebetulan bapak sedang istirahat.”
“Bapak tidak lelah mencangkul seharian. Mengapa tidak disewakan saja?” , aku membuka rantang makanan.
“Tidak usah disewakan. Bapak masih kuat menanami padi. Lagi pula bertani adalah mata pencaharian Bapak dari dulu.”
Kupandangi bapakku yang sudah menginjak senja. Kulitnya yang legam mencerminkan kerja kerasnya setiap hari. Kerutan di wajahnya adalah kerutan harapan dan kerutan kesedihan. Ototnya menjadi saksi keteguhannya mengelola semua keruwetan ini. Batinku meraung dengan nasib keluargaku, apalagi memikirkan kerja keras lelaki tua dihadapanku dan nasib sepetak sawah ini. Terngiang obrolan dengan adik lelakiku tadi pagi. Sulistya.
★ ★
“Mbak Sari, di sekolah aku ditanya Bu Guru. Apa cita citaku”, matanya berbinar bercerita dengan lidah cidalnya.
“Memang cita-citamu apa Dik Sulis?”, kupandangi wajah mungilnya.
“Jadi pilot. Nanti aku bawa Bapak, Simbok, dan Mbak Sari kerumah nenek naik pesawat.”
Ia berlari kecil mengitariku dengan tangan dilentangkan. “Ngeng..ngeng …!”, mulutnya menirukan suara pesawat. Aku tidak dapat menyalahkan cita-cita nya. Ia masih polos , tidak tahu arti hidup dan nasib. Tidak tahu kalau bapaknya hanyalah petani kecil dengan uang pas-pasan.
“Kenapa menjadi pilot ?. Bukankah lebih baik menjadi petani seperti Bapak! “
“Sulis ingin jadi pilot saja. Kata Bu Guru bisa pergi kemana saja. Bisa terbang seperti burung “.
Aku tersenyum pahit mendengar alasan naïf itu. Sulis . . .kau masih kecil.
“Banyak anak Indonesia bercita-cita seperti dirimu. Tapi melupakan satu fakta bahwa 70 % penduduknya adalah petani.
22